Setiap perangkat yang tersambung ke internet membutuhkan alamat, sama seperti rumah membutuhkan nomor supaya kiriman paket sampai. Alamat itu disebut IP address, dan selama lebih dari empat dekade internet memakai versi 4 atau IPv4. Masalahnya, IPv4 hanya menyediakan sekitar 4,3 miliar alamat, sementara jumlah ponsel, laptop, kamera CCTV, dan perangkat pintar sudah jauh melampauinya.

IPv6 adalah generasi penerus yang dirancang untuk menyelesaikan masalah itu dari akarnya: setiap perangkat bisa memiliki alamat publiknya sendiri.

IPv6 Adalah Protokol Internet Versi 6 dengan Alamat 128 Bit

IPv6 adalah versi keenam protokol internet yang memakai alamat sepanjang 128 bit. Kepanjangan IPv6 adalah Internet Protocol version 6. Protokol ini bertugas memberi alamat pada setiap perangkat dan menentukan bagaimana paket data dikirim dari satu alamat ke alamat lain. Posisinya sama dengan IPv4, yaitu di lapisan internet pada model TCP/IP.

Jadi, jawaban untuk pertanyaan "IPv6 berapa bit" adalah 128 bit, empat kali panjang IPv4 yang 32 bit. Selisihnya terlihat kecil, tetapi dampaknya eksponensial. IPv4 menghasilkan 2³² atau 4.294.967.296 alamat. IPv6 menghasilkan 2¹²⁸, kira-kira 3,4 × 10³⁸ alamat, angka dengan 39 digit.

Spesifikasi IPv6 pertama terbit sebagai RFC 1883 pada Desember 1995. Setelah dua kali revisi, IPv6 resmi menjadi standar internet lewat RFC 8200 pada Juli 2017. Artinya, IPv6 bukan teknologi baru. Yang baru adalah percepatan pemakaiannya dalam beberapa tahun terakhir.

Kenapa IPv6 Dibutuhkan dan Apa Fungsinya

Pada 3 Februari 2011, IANA membagikan blok alamat IPv4 terakhirnya ke lima registri regional. APNIC, registri untuk kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia, kehabisan stok normal pada 15 April 2011. Sejak itu, alamat IPv4 baru hanya bisa didapat dari sisa jatah kecil atau dibeli dari pemilik lama.

Penyedia internet menambal kekurangan ini dengan NAT (Network Address Translation), yaitu teknik berbagi satu alamat publik untuk banyak perangkat. Versi skala besarnya, CGNAT, membuat ratusan pelanggan memakai satu IP public yang sama. Cara ini berhasil memperpanjang umur IPv4, tetapi menambah lapisan rumit di jaringan operator. Fungsi utama IPv6 adalah menghapus kebutuhan tambalan tersebut: setiap perangkat cukup memiliki alamat publiknya sendiri.

Kenapa Versi 6, Bukan Versi 5?

Nomor versi 5 sudah lebih dulu dipakai oleh Internet Stream Protocol (ST), protokol eksperimental untuk aliran suara dan video pada era 1980-an. Protokol itu tidak pernah dipakai luas, tetapi nomornya sudah tercatat. Karena itu, penerus IPv4 langsung diberi nomor 6.

Cara Membaca Alamat IPv6 dan Contohnya

Alamat IPv6 (IPv6 address) ditulis dalam delapan grup yang dipisahkan tanda titik dua. Tiap grup berisi empat digit heksadesimal (bilangan basis 16, memakai angka 0–9 dan huruf a–f), dan satu grup mewakili 16 bit. Contoh alamat IPv6 dalam bentuk lengkap:

TEXT
2001:0db8:00a0:0000:0000:0000:0000:0c01

Prefix 2001:db8::/32 yang dipakai di contoh ini memang disediakan khusus untuk dokumentasi. Alamat dari blok tersebut tidak akan pernah dipakai di internet sungguhan, sehingga aman dijadikan contoh.

Tiga Aturan Menyingkat Alamat IPv6

Menulis 39 karakter setiap kali tentu melelahkan. RFC 5952 menetapkan cara menyingkatnya, dan bentuk singkat inilah yang Anda lihat di perintah ipconfig maupun panel DNS.

  1. Buang nol di depan setiap grup: 0db8 menjadi db8, 00a0 menjadi a0, dan 0000 menjadi 0. Nol di belakang tidak boleh dibuang, karena a0 dan a adalah angka berbeda.
  2. Ganti satu deretan grup nol terpanjang dengan ::: Tanda ini hanya boleh muncul sekali dalam satu alamat. Kalau ada dua deretan sama panjang, yang disingkat adalah deretan pertama. Satu grup nol yang berdiri sendiri cukup ditulis 0, bukan ::.
  3. Pakai huruf kecil: 0C01 ditulis c01. Sistem tetap membaca huruf besar dengan benar, tetapi huruf kecil membuat alamat mudah dicari di log.

Hasil penerapan ketiganya pada contoh di atas:

TEXT
# bentuk lengkap
2001:0db8:00a0:0000:0000:0000:0000:0c01
# setelah aturan 1 dan 3
2001:db8:a0:0:0:0:0:c01
# setelah aturan 2
2001:db8:a0::c01

Aturan "hanya sekali" ada alasannya. Kalau :: muncul dua kali, sistem tidak bisa menghitung berapa grup nol yang disembunyikan di masing-masing posisi.

Contoh alamat IPv6 2001:0db8:00a0:0000:0000:0000:0000:0c01 disingkat jadi 2001:db8:a0::c01, dibagi jaringan dan perangkat.
Contoh alamat IPv6 2001:0db8:00a0:0000:0000:0000:0000:0c01 disingkat jadi 2001:db8:a0::c01, dibagi jaringan dan perangkat.

Arti Garis Miring /64, /56, dan /48

Angka setelah garis miring menunjukkan berapa bit di depan yang menjadi bagian jaringan, sama seperti notasi prefix pada IPv4. Pada IPv6, satu jaringan lokal hampir selalu memakai /64: 64 bit depan menjadi alamat jaringan, 64 bit belakang menjadi identitas perangkat (interface identifier). Untuk 2001:db8:a0::c01/64, bagian jaringannya 2001:db8:a0:0 dan bagian perangkatnya ::c01.

Satu jaringan /64 berisi sekitar 18 miliar miliar alamat. Karena itu, yang dibagikan operator bukan lagi satu alamat, melainkan satu blok. Pelanggan rumahan umumnya menerima /56 atau /64, sedangkan organisasi biasanya menerima /48 yang bisa dipecah menjadi 65.536 jaringan /64. Cara memecah blok tersebut kita bahas di artikel subnetting, termasuk subnetting IPv6.

Jenis Alamat IPv6 yang Akan Anda Temui

IPv6 membedakan alamat berdasarkan jangkauannya. Jenisnya bisa dikenali dari beberapa karakter pertama alamat tersebut.

JenisAwalanJangkauan
Global unicast2 atau 3Internet, setara IP publik
Link-localfe80Satu segmen, tak lewat router
Unique localfdInternal, setara IP privat
Loopback::1Perangkat itu sendiri
MulticastffSekelompok perangkat

Prefix resminya berturut-turut 2000::/3, fe80::/10, fc00::/7, ::1/128, dan ff00::/8.

Ada satu jenis lagi, yaitu anycast: satu alamat yang dipasang di banyak server, lalu paket dikirim ke server terdekat. Anycast tidak punya prefix khusus, karena bentuknya sama dengan alamat global unicast biasa.

Satu hal yang hilang dari daftar itu adalah broadcast, pesan ke semua perangkat dalam satu jaringan. IPv6 tidak mengenal broadcast sama sekali. Fungsinya digantikan multicast yang hanya diterima perangkat yang berkepentingan, misalnya ff02::1 untuk semua perangkat di satu segmen dan ff02::2 untuk semua router.

Pembagian ini juga menjelaskan kenapa satu laptop bisa punya tiga atau empat alamat IPv6 sekaligus. Setiap antarmuka jaringan selalu memiliki alamat link-local fe80::, ditambah satu atau lebih alamat global dari router, ditambah ::1 sebagai alamat localhost.

Cara Kerja IPv6: Alamat Otomatis dan Header yang Ramping

Ada dua perubahan cara kerja yang paling terasa dibanding IPv4: cara perangkat mendapatkan alamat, dan bentuk paket yang dikirim.

Perangkat Menyusun Alamatnya Sendiri

Pada IPv4, perangkat biasanya menunggu alamat dari server DHCP. IPv6 menambahkan cara kedua yang disebut SLAAC (Stateless Address Autoconfiguration), yaitu perangkat menyusun alamatnya sendiri. Prosesnya memakai Neighbor Discovery Protocol (NDP), protokol yang sekaligus menggantikan ARP di IPv4.

  1. Membuat alamat link-local: Begitu tersambung, perangkat membentuk alamat fe80:: untuk dirinya sendiri.
  2. Bertanya ke router: Perangkat mengirim pesan Router Solicitation ke alamat multicast semua router.
  3. Router menjawab: Router membalas dengan Router Advertisement yang berisi prefix jaringan, misalnya 2001:db8:a0::/64.
  4. Melengkapi 64 bit sisanya: Perangkat mengisi bagian identitasnya sendiri, lalu memastikan tidak ada perangkat lain yang memakai alamat yang sama (Duplicate Address Detection).

Sistem operasi lama mengisi bagian identitas dari MAC address kartu jaringan. Cara ini membuat perangkat mudah dilacak, sehingga sistem modern beralih ke angka acak yang stabil (RFC 7217). Windows, macOS, Android, dan iOS juga membuat alamat sementara yang berganti berkala untuk koneksi keluar (RFC 8981). DHCPv6 tetap tersedia bagi jaringan yang ingin mencatat setiap pemakaian alamat secara terpusat.

Cara kerja IPv6 lewat SLAAC: perangkat membuat fe80::, bertanya ke router, menerima prefix /64, lalu melengkapi alamatnya.
Cara kerja IPv6 lewat SLAAC: perangkat membuat fe80::, bertanya ke router, menerima prefix /64, lalu melengkapi alamatnya.

Header Tetap 40 Byte

Setiap paket data membawa header, yaitu label berisi alamat pengirim, alamat tujuan, dan informasi pengiriman. Header IPv4 panjangnya berubah-ubah, minimal 20 byte. Header IPv6 selalu 40 byte dengan delapan kolom saja, dan informasi tambahan dipindahkan ke header lanjutan yang hanya dipasang bila perlu.

IPv6 juga menghapus dua pekerjaan yang dulu dibebankan ke router. Pertama, tidak ada lagi checksum header yang harus dihitung ulang di setiap router, karena pemeriksaan kesalahan sudah dilakukan lapisan lain. Kedua, router tidak lagi memecah paket yang terlalu besar. Pengirim yang wajib mencari ukuran paket yang cocok untuk seluruh jalur, dan setiap jaringan IPv6 wajib sanggup membawa paket minimal 1.280 byte.

Perbedaan IPv4 dan IPv6

Perbedaan utama IPv4 dan IPv6 ada pada panjang alamat. IPv4 memakai 32 bit dan hanya cukup untuk ±4,3 miliar alamat, sedangkan IPv6 memakai 128 bit. Perbandingan IPv4 vs IPv6 selengkapnya terlihat pada tabel berikut.

AspekIPv4IPv6
Panjang alamat32 bit128 bit
Jumlah alamat±4,3 miliar±3,4 × 10³⁸
PenulisanDesimal, 203.0.113.10Heksadesimal, 2001:db8::10
Konfigurasi otomatisDHCPSLAAC atau DHCPv6
BroadcastAdaTidak ada, diganti multicast
Ukuran header20–60 byteTetap 40 byte
Checksum headerAdaTidak ada
Pemecahan paketOleh pengirim dan routerHanya oleh pengirim
Ketergantungan NATSangat tinggiTidak dibutuhkan
Record DNSAAAAA

Dari sepuluh baris itu, dua yang paling berdampak bagi pengguna sehari-hari adalah jumlah alamat dan hilangnya kebutuhan NAT. Keduanya membuat perangkat bisa dihubungi langsung tanpa melewati penerjemahan alamat di operator.

Perbedaan IPv4 dan IPv6: IPv4 32 bit seperti 203.0.113.10, IPv6 128 bit seperti 2001:db8::10 dengan alamat 2⁹⁶ kali lipat.
Perbedaan IPv4 dan IPv6: IPv4 32 bit seperti 203.0.113.10, IPv6 128 bit seperti 2001:db8::10 dengan alamat 2⁹⁶ kali lipat.

Bisakah Perangkat IPv6 Mengakses Situs yang Hanya IPv4?

Bisa, lewat beberapa mekanisme transisi. IPv4 dan IPv6 tidak kompatibel langsung, sehingga dibutuhkan jembatan.

  • Dual-stack: Perangkat dan server menjalankan keduanya sekaligus. Ini cara yang paling umum dan direkomendasikan IDNIC-APJII.
  • NAT64 dan DNS64: Dipakai jaringan yang hanya IPv6. DNS64 membuatkan alamat IPv6 palsu berawalan 64:ff9b:: untuk situs yang hanya punya IPv4, lalu gateway NAT64 menerjemahkan paketnya. Banyak operator seluler di dunia memakai varian ini.
  • Tunneling: Paket IPv6 dibungkus di dalam paket IPv4 untuk melewati jaringan yang belum mendukung IPv6.

Bagi pengguna, semuanya berjalan tanpa terlihat. Browser memilih jalurnya sendiri dengan algoritma Happy Eyeballs (RFC 8305). Browser mencoba IPv6 lebih dulu, lalu beralih ke IPv4 jika tidak ada jawaban dalam sekitar 250 milidetik.

Kelebihan IPv6 Dibanding IPv4

  1. Alamat praktis tidak akan habis: Setiap perangkat, sensor, dan server bisa memiliki alamat publiknya sendiri tanpa harus berbagi.
  2. Koneksi ujung ke ujung tanpa CGNAT: Panggilan video, game online, dan akses jarak jauh ke kamera rumah tidak perlu lagi menembus NAT milik operator.
  3. Konfigurasi otomatis bawaan: SLAAC memungkinkan jaringan berjalan tanpa server DHCP, berguna untuk jaringan sensor dan perangkat IoT.
  4. Router bekerja lebih ringan: Header tetap tanpa checksum dan tanpa pemecahan paket mengurangi pekerjaan di setiap titik yang dilewati paket.
  5. Biaya alamat lebih murah: Alamat IPv4 kini diperjualbelikan. Sebaliknya, IDNIC-APJII hanya menagih yang lebih besar di antara biaya IPv4 atau IPv6 anggotanya, sehingga blok IPv6 tidak menambah tagihan.

Kelemahan IPv6 dan Mitos yang Perlu Diluruskan

IPv6 tetap memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan, terutama bagi pengelola jaringan dan server.

  1. Dua sistem harus dirawat sekaligus: Selama masa transisi, dual-stack berarti dua konfigurasi alamat, dua set aturan firewall, dan dua jalur yang harus diuji. Lupa membuka firewall IPv6 adalah penyebab umum website yang lancar di satu jaringan tetapi lambat atau gagal diakses dari jaringan lain.
  2. Alamat sulit dibaca dan diingat: Alamat 128 bit rawan salah ketik saat konfigurasi manual dan memperlambat penelusuran masalah.
  3. Blokir per alamat tidak lagi efektif: Penyerang bisa berganti alamat di dalam satu /64 tanpa batas. Aturan blokir dan pembatas laju (rate limit) perlu bekerja per blok /64, bukan per alamat tunggal.
  4. Perangkat dan aplikasi lama: Router rumahan lama, perangkat industri, dan aplikasi yang menyimpan alamat IP sebagai kolom 15 karakter bisa gagal menangani IPv6.

Apakah IPsec Wajib di IPv6?

Tidak lagi. Kewajiban itu sudah dicabut sejak Desember 2011. Spesifikasi awal memang mewajibkan setiap perangkat IPv6 mendukung IPsec, protokol enkripsi di lapisan IP. RFC 6434 menurunkannya menjadi anjuran, dan RFC 8504 tahun 2019 mempertahankan status tersebut. Lagi pula, IPsec juga bisa dipakai di IPv4. Keamanan data Anda tetap bergantung pada HTTPS, SSH, atau VPN, bukan pada versi IP.

Apakah IPv6 Lebih Cepat dari IPv4?

Tidak selalu. Kecepatan ditentukan oleh rute yang dilewati paket, bukan oleh versi protokolnya. IPv6 bisa terasa lebih cepat jika jalur IPv4 Anda melewati perangkat CGNAT yang padat. Sebaliknya, IPv6 bisa lebih lambat jika operator Anda merutekannya lewat jalur yang lebih jauh. Happy Eyeballs membantu browser menghindari jalur yang macet, sehingga dalam praktik selisihnya jarang terasa.

Apakah IPv6 Aman Tanpa NAT?

Aman, selama firewall router aktif. NAT memang membuat perangkat di balik router tidak bisa dihubungi dari luar, tetapi itu efek samping, bukan fitur keamanan. Yang benar-benar melindungi adalah firewall stateful, yaitu firewall yang hanya mengizinkan lalu lintas masuk jika merupakan balasan dari koneksi yang dimulai dari dalam. Router rumahan modern yang mendukung IPv6 menerapkan aturan ini secara bawaan. Selama firewall-nya aktif, perangkat IPv6 Anda tidak lebih terbuka daripada perangkat di balik NAT.

Adopsi IPv6 di Indonesia Saat Ini

Pemakaian IPv6 di Indonesia naik tajam dalam setahun terakhir. Data pengukuran APNIC Labs berikut menunjukkan persentase pengguna internet Indonesia yang sudah bisa mengakses layanan lewat IPv6 (rata-rata 30 hari, diambil setiap awal Oktober).

TahunPengguna IPv6 di Indonesia
20200,6%
20211,8%
202214,1%
202315,6%
202418,4%
202518,3%
202628,7%

Angka 28,7% masih tertinggal dari negara tetangga. Pada pengukuran yang sama per 7 Oktober 2026, India mencapai 77,0%, Malaysia 73,3%, dan Amerika Serikat 61,7%. Singapura justru lebih rendah, yaitu 22,3%.

Adopsi IPv6 di Indonesia menurut APNIC: 0,6% pada 2020, 14,1% pada 2022, 18,3% pada 2025, dan 28,7% pada 2026.
Adopsi IPv6 di Indonesia menurut APNIC: 0,6% pada 2020, 14,1% pada 2022, 18,3% pada 2025, dan 28,7% pada 2026.

Lonjakan sejak 2025 sejalan dengan dorongan pemerintah. Menurut Internet Society, Kementerian Kominfo (kini Komdigi) menerbitkan surat edaran pada September 2024. Isinya meminta produsen menjadikan IPv6 pengaturan bawaan pada ponsel, router, dan perangkat IoT yang dijual di Indonesia. Instansi pusat dan pemerintah daerah juga diminta mengaktifkan IPv6 di jaringannya. Di sisi registri, IDNIC-APJII mendistribusikan blok IPv6 kepada anggotanya dan menganjurkan dual-stack bagi operator, penyedia konten, dan instansi pemerintah.

Cara Cek IPv6 di Perangkat dan Website Anda

Ada empat pemeriksaan yang bisa Anda lakukan dalam beberapa menit, mulai dari yang paling mudah.

Langkah #1: Jalankan IPv6 Test di Browser

Cara tercepat adalah tes IPv6 online di test-ipv6.com. Situs ini mencoba memuat beberapa objek lewat IPv4 saja, IPv6 saja, dan keduanya, lalu menampilkan alamat IPv6 Anda beserta skor kesiapan. Jika muncul tulisan bahwa alamat IPv6 tidak terdeteksi, berarti operator Anda belum memberi IPv6 ke jaringan tersebut. Coba ulangi tes lewat data seluler untuk membandingkan.

Langkah #2: Lihat Alamat IPv6 di Perangkat

Di Windows, jalankan perintah berikut di Command Prompt:

Bash
ipconfig

Di Linux, gunakan ip -6 addr, sedangkan di macOS gunakan ifconfig | grep inet6. Perhatikan awalan alamatnya. Jika yang muncul hanya fe80:: dan ::1, perangkat Anda belum memiliki alamat global, sehingga belum bisa memakai IPv6 untuk menjangkau internet. Alamat global berawalan 2 atau 3, misalnya 2001: atau 2400:.

Cara cek IPv6 lewat awalan alamat: hanya ::1 dan fe80:: berarti belum aktif, 2xxx atau 3xxx aktif, fdxx hanya internal.
Cara cek IPv6 lewat awalan alamat: hanya ::1 dan fe80:: berarti belum aktif, 2xxx atau 3xxx aktif, fdxx hanya internal.

Langkah #3: Uji Jalur dengan Ping IPv6

Perintah ping bisa dipaksa memakai IPv6. Di Windows dan Linux, gunakan opsi -6:

Bash
ping -6 google.com

Di macOS, gunakan ping6 google.com. Jika perangkat hanya memiliki alamat link-local, hasilnya berupa pesan seperti No route to host atau Destination host unreachable. Pesan ini bukan tanda kerusakan, hanya penanda bahwa jaringan Anda belum menyediakan jalur IPv6 ke internet.

Langkah #4: Cek Record AAAA Website

Website bisa diakses lewat IPv6 hanya jika domainnya memiliki record AAAA di DNS. Record A menyimpan alamat IPv4, sedangkan AAAA menyimpan alamat IPv6. Gunakan salah satu perintah berikut:

Bash
dig AAAA www.indowebsite.co.id +short
nslookup -type=AAAA www.indowebsite.co.id

Hasilnya berupa satu atau lebih alamat IPv6, misalnya:

TEXT
2606:4700:3031::6815:3f5b
2606:4700:3032::ac43:9116

Jika hasilnya kosong, domain tersebut hanya bisa dijangkau lewat IPv4.

Alamat DNS Publik IPv6 Google dan Cloudflare

Jika ingin memakai DNS publik di jaringan IPv6, berikut alamat resminya:

LayananDNS utamaDNS cadangan
Google Public DNS2001:4860:4860::88882001:4860:4860::8844
Cloudflare2606:4700:4700::11112606:4700:4700::1001

Isi alamat ini pada pengaturan "Internet Protocol Version 6 (TCP/IPv6)" di Windows, atau pada kolom DNS IPv6 di router.

Website Anda Belum Punya AAAA?

Untuk website yang dihosting di server sendiri, ada tiga langkah agar bisa diakses lewat IPv6. Pertama, minta alamat atau blok IPv6 ke penyedia server, misalnya pada dedicated server yang menyediakan IPv6 sesuai kebutuhan. Kedua, pastikan web server mendengarkan di alamat IPv6, lalu buka port 80 dan 443 di firewall IPv6. Ketiga, tambahkan record AAAA, lalu ulangi Langkah #4 dan #1 dari jaringan yang sudah mendukung IPv6.

Jangan menambahkan AAAA sebelum firewall dan web server siap. Pengunjung yang jaringannya mendukung IPv6 akan mencoba alamat itu lebih dulu, dan website Anda tampak lambat bagi mereka.

Perlukah IPv6 Dimatikan?

Untuk komputer rumahan, jawabannya hampir selalu tidak. Microsoft secara tegas tidak merekomendasikan mematikan IPv6 di Windows, karena sebagian komponen Windows bisa berhenti berfungsi. Jika ada aplikasi yang bermasalah dengan IPv6, Microsoft menyarankan pengaturan "Prefer IPv4 over IPv6" ketimbang mematikannya.

Mematikan (disable) IPv6 masih masuk akal sebagai langkah diagnosis sementara. Misalnya, untuk memastikan apakah gangguan memang berasal dari jalur IPv6. Di server Ubuntu atau Linux lain, perintah berikut mematikannya hanya sampai server di-restart:

Bash
sudo sysctl -w net.ipv6.conf.all.disable_ipv6=1

Ganti angka 1 menjadi 0 untuk mengaktifkannya kembali. Setelah penyebabnya ketemu, jangan biarkan IPv6 mati permanen, terutama jika domain Anda sudah memiliki record AAAA.

Pertanyaan Seputar IPv6

IPv6 digunakan untuk apa?

IPv6 digunakan untuk memberi alamat pada perangkat dan mengirimkan data di internet, sama seperti IPv4. Bedanya, IPv6 memberi setiap perangkat alamat publiknya sendiri. Saat ini, IPv6 dipakai luas di jaringan seluler, layanan cloud, CDN, dan perangkat IoT.

Apakah IPv4 akan dihapus?

Belum dalam waktu dekat. Masih banyak website, perangkat, dan jaringan perusahaan yang hanya mendukung IPv4. Dual-stack kemungkinan bertahan bertahun-tahun, dan IPv4 akan memudar secara bertahap ketika layanan besar mulai menyediakan IPv6 saja.

Kenapa Windows menampilkan "IPv6: No internet access"?

Status ini muncul ketika kartu jaringan memiliki alamat link-local fe80:: tetapi tidak menerima alamat global dari router. Penyebab paling umum adalah operator atau router Anda belum mengaktifkan IPv6. Selama status IPv4 tertulis "Internet", koneksi Anda tetap berjalan normal.

Apakah alamat IPv6 bisa menunjukkan lokasi saya?

Sama seperti IPv4, alamat IPv6 hanya bisa memperkirakan kota atau wilayah operator, bukan alamat rumah. Bagian prefix menunjukkan jaringan operator dan pelanggan, sementara alamat sementara RFC 8981 menyamarkan identitas perangkat Anda di dalam jaringan tersebut.

Kesimpulan

IPv6 adalah protokol internet versi 6 dengan alamat 128 bit, dirancang untuk menggantikan IPv4 yang stoknya sudah habis sejak 2011. Alamatnya terlihat panjang, tetapi bisa dibaca dengan mudah setelah memahami tiga aturan penyingkatan dan pembagian /64. Perbedaan IPv4 dan IPv6 yang paling terasa adalah jumlah alamat dan hilangnya kebutuhan NAT.

Bagi pengguna rumahan, IPv6 cukup dibiarkan aktif dan akan berjalan sendiri ketika operator mendukungnya. Bagi pemilik website dan server, adopsi Indonesia yang kini mendekati 30% adalah alasan yang cukup untuk mulai menambahkan record AAAA dan menguji firewall IPv6.

Semoga artikel ini membantu.