Sebagian besar jaringan kantor kecil dimulai dengan satu blok alamat, biasanya 192.168.1.0/24. Router membagikan alamat ke semua perangkat, dan semuanya langsung saling terhubung. Pengaturan ini berjalan lancar selama perangkatnya sedikit. Masalah baru terasa ketika jumlah perangkat bertambah dan jenisnya makin beragam.

Dalam satu jaringan lokal yang sama, setiap pesan siaran (broadcast) dari satu laptop diterima oleh semua perangkat lain. Komputer bagian keuangan, kamera CCTV, printer, dan ponsel tamu berada di "ruangan" yang sama tanpa sekat. Meminta blok alamat baru untuk setiap ruangan juga bukan jawaban, karena alamat IPv4 terbatas. Solusinya adalah subnetting: memecah blok yang sudah Anda miliki menjadi beberapa jaringan yang lebih kecil.

Artikel ini membahas apa itu subnetting, cara kerjanya dalam angka biner, rumus yang dipakai, dan tabel subnetting kelas C serta kelas B. Kita juga akan mengerjakan contoh untuk kelas C, B, dan A, lalu membandingkan FLSM dengan VLSM.

Subnetting Adalah Memecah Satu Blok Alamat Menjadi Beberapa Jaringan

Subnetting adalah proses membagi satu blok alamat IP menjadi beberapa jaringan yang lebih kecil. Setiap jaringan hasil pemecahan disebut subnet (sub-jaringan). Setiap subnet berdiri sebagai jaringan sendiri, dengan alamat jaringan, rentang alamat perangkat, dan alamat broadcast masing-masing. Perangkat di subnet berbeda hanya bisa berkomunikasi lewat router.

Konsep ini dibakukan dalam RFC 950 pada Agustus 1985. Alasan yang tertulis di dokumen itu masih relevan sampai sekarang. Satu organisasi sering punya beberapa jaringan fisik, dan setiap teknologi jaringan membatasi jumlah perangkat serta panjang kabel. Kalau setiap jaringan fisik meminta nomor jaringan sendiri dari internet, tabel routing internet akan membengkak dengan rute yang tidak berguna bagi pihak luar.

Subnetting IP address menyelesaikan masalah itu. Dari luar, organisasi tetap terlihat sebagai satu blok alamat. Di dalam, blok itu dipecah sesuai kebutuhan.

Bayangkan sebuah pengembang perumahan yang memiliki satu bidang tanah. Tanah itu tidak bisa diperluas, tetapi bisa dipecah menjadi beberapa kaveling. Setiap kaveling butuh patok di awal dan di akhir sebagai penanda batas, sehingga sebagian kecil lahan terpakai untuk patok. Makin banyak kaveling, makin banyak lahan yang habis untuk patok. Subnetting bekerja dengan logika yang sama, dan "patok" itu akan kita temui lagi sebagai alamat jaringan dan alamat broadcast.

Pengertian subnetting tidak bisa dilepaskan dari subnet mask. Subnetting adalah prosesnya, sedangkan subnet mask adalah penanda hasilnya. Setiap kali sebuah blok dipecah, subnet mask-nya berubah, dan dari mask baru itulah setiap perangkat tahu seberapa besar jaringannya.

Cara Kerja Subnetting: Meminjam Bit dari Bagian Host

Alamat IPv4 terdiri dari 32 bit yang terbagi menjadi dua bagian: network ID (penanda jaringan) dan host ID (penanda perangkat). Kedua istilah itu diuraikan lebih lengkap di artikel IP address. Cara kerja subnetting sederhana: beberapa bit dari bagian host "dipinjam" dan dijadikan bagian jaringan.

Ambil contoh blok 192.168.50.0/24. Angka /24 berarti 24 bit pertama adalah bagian jaringan, sehingga tersisa 8 bit untuk perangkat. Delapan bit itu adalah oktet (kelompok 8 bit) terakhir:

TEXT
Blok asal /24   : 192.168.50.hhhhhhhh
Pinjam 1 bit /25: 192.168.50.s hhhhhhh
Pinjam 2 bit /26: 192.168.50.ss hhhhhh
Pinjam 3 bit /27: 192.168.50.sss hhhhh

Huruf s adalah bit subnet (hasil pinjaman), sedangkan h adalah bit host yang tersisa. Setiap bit subnet bisa bernilai 0 atau 1. Satu bit pinjaman menghasilkan 2 kombinasi, dua bit menghasilkan 4, dan tiga bit menghasilkan 8 subnet.

Di sinilah konsep subnetting terasa seperti jungkat-jungkit. Setiap satu bit tambahan yang dipinjam menggandakan jumlah subnet dan sekaligus membelah dua kapasitas setiap subnet. Anda tidak bisa mendapatkan subnet yang banyak dan besar sekaligus dari blok yang sama.

Cara kerja subnetting: meminjam bit oktet terakhir dari /24 ke /27 menggandakan subnet 1, 2, 4, 8, host turun 254 ke 30.
Cara kerja subnetting: meminjam bit oktet terakhir dari /24 ke /27 menggandakan subnet 1, 2, 4, 8, host turun 254 ke 30.

Perhatikan kolom host di atas. Setiap subnet selalu kehilangan dua alamat: alamat pertama menjadi alamat jaringan, dan alamat terakhir menjadi alamat broadcast. Keduanya adalah "patok" kaveling tadi. Blok /24 utuh menampung 254 perangkat, tetapi setelah dipecah menjadi 16 subnet /28, kapasitasnya hanya tersisa 16 × 14 = 224 perangkat.

Tujuan dan Fungsi Subnetting

Tujuan subnetting bukan sekadar membagi angka. Pemecahan jaringan membawa beberapa manfaat nyata dalam pengelolaan sehari-hari:

  1. Memperkecil wilayah broadcast: Pesan broadcast hanya beredar di dalam subnet asalnya. Jaringan dengan 60 perangkat per subnet jauh lebih tenang dibanding satu jaringan berisi 250 perangkat yang saling menyiarkan pesan.
  2. Memisahkan kelompok perangkat: WiFi tamu, CCTV, dan komputer keuangan bisa ditempatkan di subnet berbeda. Karena lalu lintas antar-subnet harus lewat router, di titik itulah aturan firewall bisa dipasang, misalnya tamu hanya boleh ke internet.
  3. Menyesuaikan jaringan dengan struktur fisik: Setiap lantai, gedung, atau cabang bisa mendapat subnet sendiri. Saat ada masalah, alamat IP langsung menunjukkan lokasi perangkatnya.
  4. Memakai alamat lebih hemat: Link antara dua router hanya butuh dua alamat. Dengan subnetting, link itu cukup diberi blok kecil, bukan satu /24 yang menyisakan 252 alamat menganggur.
  5. Merapikan tabel routing: Subnet yang disusun berurutan bisa diringkas menjadi satu rute, sehingga router di luar tidak perlu mengenal setiap subnet satu per satu.

Fungsi subnetting yang pertama dan kedua biasanya paling terasa di kantor kecil. Fungsi keempat dan kelima lebih terasa di jaringan besar atau di penyedia layanan.

Rumus Subnetting yang Perlu Anda Hafal

Semua perhitungan subnetting bertumpu pada empat rumus. Sebelum memakainya, pahami dulu dua variabel yang dipakai:

  • n = jumlah bit yang dipinjam dari blok asal
  • h = jumlah bit host yang tersisa (32 dikurangi prefix baru)

Keempat rumus subnetting tersebut adalah:

  1. Jumlah subnet = 2ⁿ
  2. Host terpakai per subnet = 2ʰ − 2
  3. Ukuran blok = 256 − nilai oktet mask yang tidak bernilai 255 atau 0. Untuk /27 (mask 255.255.255.224), ukuran bloknya 256 − 224 = 32.
  4. Alamat subnet dimulai dari 0 dan naik sebesar ukuran blok. Alamat broadcast adalah satu angka sebelum awal subnet berikutnya, dan rentang host berada di antara keduanya.

Perlu diperhatikan, n dihitung dari prefix blok asal, bukan dari oktet terakhir mask. Rumus yang sering diajarkan berbunyi "x adalah jumlah bit 1 di oktet terakhir subnet mask". Definisi itu hanya benar untuk blok /24 (kelas C). Untuk blok 172.16.0.0/16 yang dipecah menjadi /21, oktet terakhir mask bernilai 0, padahal bit yang dipinjam ada 5. Hasilnya 2⁵ = 32 subnet, sesuai contoh dalam dokumentasi Cisco.

Rumus subnetting: jumlah subnet 2ⁿ, host per subnet 2ʰ − 2, ukuran blok 256 − oktet mask, dan n dihitung dari prefix asal.
Rumus subnetting: jumlah subnet 2ⁿ, host per subnet 2ʰ − 2, ukuran blok 256 − oktet mask, dan n dihitung dari prefix asal.

Kenapa Ada Rumus Jumlah Subnet 2ⁿ − 2?

Anda mungkin menemukan rumus jumlah subnet 2ⁿ − 2 di buku atau soal ujian. Rumus ini bukan salah ketik. Ia berasal dari RFC 950 yang menyatakan bahwa subnet dengan bit subnet bernilai nol semua (subnet zero) dan satu semua (all-ones subnet) sebaiknya tidak dipakai. Alasannya, alamat subnet zero sama persis dengan alamat blok induknya, sehingga perangkat lama bisa salah membaca.

Aturan itu dinyatakan usang oleh RFC 1878 pada Desember 1995, dengan kalimat tegas bahwa perangkat lunak modern mampu memakai semua subnet yang bisa dibentuk. Cisco mengaktifkan subnet zero secara bawaan sejak IOS 12.0. Jadi, dalam praktik sekarang, jumlah subnet adalah 2ⁿ.

💡 Untuk keperluan ujian, ikuti ketentuan yang tertulis di soal atau yang diajarkan pengajar. Kalau soal tidak menyebutkan, tuliskan jawaban dengan rumus 2ⁿ dan beri catatan singkat bahwa rumus lama menghasilkan 2ⁿ − 2.

Rumus host 2ʰ − 2 tetap berlaku, karena alamat jaringan dan broadcast di dalam setiap subnet memang tidak bisa dipakai perangkat.

Tabel Subnetting Kelas C dan Kelas B

Tabel subnetting berikut menjawab satu pertanyaan: kalau satu blok dipecah dengan prefix tertentu, berapa subnet yang lahir dan seberapa besar masing-masing? Kolom "Subnet" berisi jumlah subnet, "Host" berisi host terpakai per subnet, dan "Blok" berisi ukuran blok. Tabel pertama berlaku untuk blok /24, yang dalam pelajaran sering disebut subnetting kelas C.

Tabel subnetting kelas C: prefix /25 sampai /30 beserta jumlah subnet, host per subnet, ukuran blok, dan subnet mask.
Tabel subnetting kelas C: prefix /25 sampai /30 beserta jumlah subnet, host per subnet, ukuran blok, dan subnet mask.
PrefixSubnetHostBlokSubnet mask
/252126128255.255.255.128
/2646264255.255.255.192
/2783032255.255.255.224
/28161416255.255.255.240
/293268255.255.255.248
/306424255.255.255.252

Tabel kedua berlaku untuk blok /16 (kelas B). Di sini bit yang dipinjam berada di oktet ketiga, sehingga ukuran blok juga dihitung di oktet ketiga.

PrefixSubnetHostBlokSubnet mask
/17232.766128255.255.128.0
/18416.38264255.255.192.0
/1988.19032255.255.224.0
/20164.09416255.255.240.0
/21322.0468255.255.248.0
/22641.0224255.255.252.0
/231285102255.255.254.0
/242562541255.255.255.0

Kalau Anda membutuhkan konversi prefix dan mask yang lengkap dari /8 sampai /32, tabelnya tersedia di artikel subnet mask yang kami tautkan di awal.

Contoh Subnetting Kelas C, B, dan A

Cara menghitung subnetting paling mudah dipahami lewat contoh. Kita mulai dari kasus kelas C secara lengkap, lalu melihat kelas B dan kelas A yang polanya sama tetapi berpindah oktet.

Contoh Subnetting Kelas C: Enam Ruangan dalam 192.168.50.0/24

Sebuah sekolah memiliki blok 192.168.50.0/24 dan ingin memisahkan enam ruangan: tata usaha, ruang guru, dua laboratorium, perpustakaan, dan WiFi siswa. Setiap ruangan berisi paling banyak 25 perangkat.

Langkah #1: Tentukan jumlah subnet yang dibutuhkan. Kebutuhannya 6 subnet. Cari pangkat dua terkecil yang cukup: 2² = 4 kurang, 2³ = 8 cukup. Jadi, kita meminjam 3 bit.

Langkah #2: Hitung prefix dan subnet mask baru. Prefix asal /24 ditambah 3 bit menjadi /27. Oktet terakhir mask berisi 11100000, yaitu 224. Subnet mask barunya 255.255.255.224.

Langkah #3: Periksa kapasitas host. Sisa bit host adalah 32 − 27 = 5, sehingga setiap subnet menampung 2⁵ − 2 = 30 perangkat. Kebutuhan 25 perangkat per ruangan terpenuhi, dengan sisa 5 alamat untuk pertumbuhan.

Langkah #4: Susun daftar subnet. Ukuran blok adalah 256 − 224 = 32. Subnet dimulai dari 0 dan naik 32 setiap kali. Semua alamat di tabel berikut diawali 192.168.50:

NoJaringanRentang hostBroadcast
1.0.1–.30.31
2.32.33–.62.63
3.64.65–.94.95
4.96.97–.126.127
5.128.129–.158.159
6.160.161–.190.191
7.192.193–.222.223
8.224.225–.254.255

Enam subnet pertama dibagikan ke enam ruangan. Dua subnet terakhir disimpan sebagai cadangan, misalnya untuk ruangan baru atau jaringan CCTV di kemudian hari.

Contoh subnetting kelas C: 192.168.50.0/24 dibagi 8 subnet /27 untuk enam ruangan sekolah plus dua blok cadangan.
Contoh subnetting kelas C: 192.168.50.0/24 dibagi 8 subnet /27 untuk enam ruangan sekolah plus dua blok cadangan.

Contoh Subnetting Kelas B: 172.20.0.0/16 Dipecah Menjadi /20

Sebuah kampus memiliki blok 172.20.0.0/16 dan membutuhkan 12 subnet besar untuk 12 gedung. Pangkat dua terkecil yang cukup adalah 2⁴ = 16, sehingga 4 bit dipinjam dan prefix barunya /20 dengan mask 255.255.240.0.

Sisa bit host adalah 32 − 20 = 12, sehingga setiap subnet menampung 2¹² − 2 = 4.094 perangkat. Ukuran blok dihitung dari oktet ketiga mask: 256 − 240 = 16. Subnet-subnetnya adalah 172.20.0.0, 172.20.16.0, 172.20.32.0, dan seterusnya sampai 172.20.240.0.

Pola soal yang sering muncul adalah kebalikannya: diberikan satu alamat, lalu ditanyakan subnet mana yang memuatnya. Misalnya alamat 172.20.77.9/20. Angka 77 di oktet ketiga berada di antara 64 dan 79, karena kelipatan 16 terdekat di bawahnya adalah 64. Jadi:

  • Alamat jaringan: 172.20.64.0
  • Rentang host: 172.20.64.1 sampai 172.20.79.254
  • Alamat broadcast: 172.20.79.255

Perhatikan bahwa broadcast tidak berakhir di .255 pada oktet ketiga, melainkan di 79.255. Kesalahan paling umum pada subnetting kelas B adalah menghitung ukuran blok di oktet keempat, padahal mask-nya bekerja di oktet ketiga.

Contoh Subnetting Kelas A: 10.0.0.0/8 untuk Kantor Cabang

Blok privat 10.0.0.0/8 sering dipakai perusahaan dengan banyak cabang. Dengan meminjam 8 bit, blok ini pecah menjadi 2⁸ = 256 subnet /16. Setiap cabang mendapat satu /16, misalnya Jakarta 10.1.0.0/16, Bandung 10.2.0.0/16, dan Surabaya 10.3.0.0/16.

Menariknya, setiap /16 itu bisa dipecah lagi. Cabang Jakarta bisa memberi setiap lantai satu /24: 10.1.1.0/24 untuk lantai 1, 10.1.2.0/24 untuk lantai 2, dan seterusnya. Subnetting bertingkat seperti ini membuat alamat IP mudah dibaca. Dari angka 10.1.2.45, admin langsung tahu perangkat itu berada di cabang Jakarta, lantai 2.

Contoh Soal Subnetting dan Pembahasannya

Tiga soal berikut mewakili pola yang paling sering keluar di ujian jaringan. Cobalah kerjakan dulu sebelum membaca pembahasannya.

Soal 1: Tentukan alamat jaringan, broadcast, dan rentang host dari 192.168.20.130/26. Mask /26 berarti 255.255.255.192, sehingga ukuran bloknya 256 − 192 = 64. Kelipatan 64 terdekat di bawah 130 adalah 128. Jadi, alamat jaringannya 192.168.20.128, broadcast 192.168.20.191, dan host terpakai .129 sampai .190 sebanyak 62 alamat.

Soal 2: Blok 10.0.0.0/8 harus dipecah menjadi minimal 100 subnet. Berapa prefix dan jumlah host per subnet? Pangkat dua terkecil yang cukup adalah 2⁷ = 128, jadi 7 bit dipinjam dan prefix barunya /15 (255.254.0.0). Sisa bit host 32 − 15 = 17, sehingga setiap subnet menampung 2¹⁷ − 2 = 131.070 host.

Soal 3: Apakah 192.168.20.70/27 dan 192.168.20.100/27 berada di subnet yang sama? Ukuran blok /27 adalah 32. Alamat .70 berada di blok .64–.95, sedangkan .100 berada di blok .96–.127. Keduanya berada di subnet berbeda, sehingga komunikasi di antara keduanya harus lewat router.

FLSM dan VLSM: Ukuran Subnet Seragam atau Menyesuaikan

Semua contoh di atas memakai ukuran subnet yang sama untuk setiap bagian. Cara ini disebut FLSM (Fixed Length Subnet Mask): satu mask untuk semua subnet. FLSM mudah dihitung dan mudah dikelola, dan cocok kalau kebutuhan setiap bagian kurang lebih sama.

Masalah muncul saat kebutuhan setiap bagian sangat berbeda. Misalkan sebuah pabrik dengan blok 192.168.80.0/24 membutuhkan lima jaringan:

  • Produksi: 100 perangkat
  • Kantor: 50 perangkat
  • Gudang: 20 perangkat
  • WiFi tamu: 12 perangkat
  • Link antar-router: 2 alamat

Dengan FLSM, ukuran subnet harus mengikuti kebutuhan terbesar, yaitu 100 perangkat. Satu subnet /25 menampung 126 perangkat, tetapi satu /24 hanya muat dua subnet /25. Lima jaringan tidak mungkin ditampung. Padahal total kebutuhannya hanya 184 alamat, masih jauh di bawah kapasitas 254.

Solusinya adalah VLSM (Variable Length Subnet Mask): setiap subnet diberi mask yang ukurannya sesuai kebutuhan masing-masing. Dalam contoh di dokumentasinya, Cisco mencatat VLSM menghemat lebih dari separuh ruang alamat dibanding mask seragam.

Contoh Perhitungan VLSM Langkah demi Langkah

Kunci VLSM adalah satu aturan: alokasikan dari kebutuhan terbesar ke terkecil. Aturan ini ada karena setiap blok harus dimulai di kelipatan ukurannya sendiri. Blok /25 hanya boleh dimulai di .0 atau .128, sedangkan blok /30 bisa dimulai di kelipatan 4 mana pun. Kalau blok kecil dialokasikan lebih dulu, blok besar bisa kehilangan titik awal yang sah.

Langkah #1: Urutkan kebutuhan dan tentukan prefix masing-masing. Tambahkan 2 alamat untuk jaringan dan broadcast, lalu cari pangkat dua terkecil yang cukup:

BagianButuhBlokPrefixHost
Produksi100128/25126
Kantor5064/2662
Gudang2032/2730
Tamu1216/2814
Link24/302

Langkah #2: Alokasikan berurutan dari alamat terendah. Setiap blok dimulai tepat setelah broadcast blok sebelumnya. Semua alamat di tabel berikut diawali 192.168.80:

BagianJaringanRentang hostBroadcast
Produksi.0/25.1–.126.127
Kantor.128/26.129–.190.191
Gudang.192/27.193–.222.223
Tamu.224/28.225–.238.239
Link.240/30.241–.242.243

Langkah #3: Catat sisa ruang. Alamat .244 sampai .255 belum terpakai. Sisa ini bisa dipakai untuk tiga link router tambahan (/30) atau satu jaringan kecil berisi 6 perangkat (/29). Kebutuhan yang tadinya mustahil dengan FLSM kini muat dalam satu /24 dengan ruang cadangan.

Subnetting FLSM /25 hanya memuat produksi dan kantor, sedangkan VLSM memuat lima subnet dan masih menyisakan .244–.255.
Subnetting FLSM /25 hanya memuat produksi dan kantor, sedangkan VLSM memuat lima subnet dan masih menyisakan .244–.255.

Susun Subnet Berdampingan supaya Rute Bisa Diringkas

Subnetting yang rapi juga memikirkan cara router di luar melihat jaringan Anda. Kalau semua subnet cabang Jakarta berada di dalam 10.1.0.0/16, router pusat cukup menyimpan satu rute: "semua alamat 10.1.x.x kirim ke Jakarta". Teknik ini disebut route summarization (peringkasan rute), dan menjadi dasar cara kerja CIDR (Classless Inter-Domain Routing) di internet.

Peringkasan hanya bisa dilakukan kalau subnet-subnetnya berdampingan dalam satu blok induk. Kalau subnet Jakarta tersebar acak, misalnya sebagian di 10.1.x.x dan sebagian di 10.7.x.x, router pusat harus mencatat setiap subnet satu per satu. Karena itu, sediakan satu blok induk untuk setiap lokasi sejak awal, meskipun belum semuanya terpakai.

Subnetting di IPv6

Subnetting IPv6 memakai prinsip yang sama, yaitu meminjam bit untuk bagian jaringan, tetapi hitungannya jauh lebih longgar. Ada tiga perbedaan utama:

  1. Tidak ada alamat broadcast: IPv6 tidak mengenal broadcast, sehingga rumus "dikurangi 2" tidak berlaku.
  2. Ukuran subnet LAN sudah baku: Setiap jaringan lokal memakai /64. RFC 7421 menjelaskan banyak mekanisme IPv6, termasuk pembuatan alamat otomatis, bergantung pada batas 64 bit ini.
  3. Yang dihitung adalah jumlah subnet, bukan jumlah host: Sebuah organisasi yang menerima alokasi /48 memiliki 16 bit untuk subnet sampai ke /64. Hasilnya 2¹⁶ = 65.536 subnet.

Dalam praktik, batas pemecahan IPv6 sebaiknya jatuh di kelipatan 4 bit, misalnya /52, /56, atau /60. Satu digit heksadesimal mewakili 4 bit, sehingga batas subnet tetap mudah dibaca di alamatnya.

Sisi Lain Subnetting yang Perlu Dipertimbangkan

Subnetting membawa banyak manfaat, tetapi setiap pemecahan juga punya konsekuensi. Beberapa hal berikut perlu Anda pertimbangkan sebelum membagi jaringan:

  1. Alamat hilang di setiap subnet: Setiap subnet IPv4 mengorbankan dua alamat. Memecah satu /24 menjadi 64 subnet /30 hanya menyisakan 128 alamat untuk perangkat, dari 254 yang tersedia sebelumnya.
  2. Lalu lintas antar-subnet harus lewat router: Dua komputer di subnet berbeda tidak bisa berkomunikasi langsung. Setiap subnet butuh gateway sendiri, dan router menanggung beban tambahan. Kalau router itu mati, antar-subnet ikut terputus.
  3. Salah hitung berakibat perangkat tidak saling kenal: Satu angka mask yang keliru membuat perangkat mengira tetangganya berada di jaringan lain, atau sebaliknya. Masalah seperti ini sulit dilacak, karena perangkat yang sama masih bisa menjangkau sebagian tujuan.
  4. Mengubah rancangan di kemudian hari itu mahal: Memperbesar subnet yang sudah penuh berarti mengganti alamat dan mask banyak perangkat. Server DHCP, aturan firewall, dan catatan dokumentasi ikut berubah.
  5. Rentang bisa bentrok saat jaringan digabung: Dua kantor yang sama-sama memakai 192.168.1.0/24 akan bermasalah saat dihubungkan lewat VPN (Virtual Private Network). Pilihan blok yang kurang umum, misalnya 10.x.x.x atau 172.16–31.x.x, mengurangi risiko ini.

Rekomendasi Merancang Subnet untuk Jaringan Kecil dan Menengah

Rancangan subnet yang baik dibuat sebelum perangkat pertama dipasang. Berikut panduan yang bisa Anda pakai sebagai titik awal:

  1. Segmen pengguna: mulai dari /24: Satu /24 menampung 254 perangkat. Untuk segmen yang berisi hingga sekitar 200 perangkat, /24 memberi ruang tumbuh sekitar 25% dan mudah dibaca karena batasnya jatuh di titik.
  2. Link antar-router: pakai /30 atau /31: Link point-to-point (penghubung langsung dua perangkat) hanya butuh dua alamat. /30 menyisakan 2 host terpakai, sedangkan /31 (RFC 3021) memakai kedua alamatnya tanpa jaringan dan broadcast. Pastikan perangkat Anda mendukung /31 sebelum memakainya.
  3. Pisahkan tamu, CCTV, dan server: Tiga kelompok ini punya kebutuhan keamanan yang berbeda, jadi berikan masing-masing subnet sendiri sejak awal.
  4. Sisakan blok cadangan yang berdampingan: Kalau hari ini butuh 4 subnet, siapkan blok induk untuk 8. Subnet baru nanti tetap berurutan dan bisa diringkas.
  5. Satu subnet, satu pool DHCP: Server DHCP membagikan alamat per subnet, jadi rentang pool harus berada di dalam rentang host subnet yang bersangkutan.

Terakhir, periksa hitungan manual dengan alat bantu sebelum diterapkan. Di Linux dan macOS, perintah ipcalc bisa dipasang lewat pengelola paket (sudo apt install ipcalc di Ubuntu atau brew install ipcalc di macOS). Perintah berikut meminta ipcalc menyusun VLSM untuk contoh pabrik tadi:

Bash
ipcalc -b 192.168.80.0/24 -s 100 50 20 12 2

Keluarannya menampilkan lima subnet dengan alamat yang sama persis dengan tabel VLSM di atas. Berikut potongan untuk subnet pertama dan bagian penutupnya:

TEXT
1. Requested size: 100 hosts
Netmask:   255.255.255.128 = 25
Network:   192.168.80.0/25
HostMin:   192.168.80.1
HostMax:   192.168.80.126
Broadcast: 192.168.80.127
...
Needed size:  244 addresses.
Used network: 192.168.80.0/24
Unused:
192.168.80.244/30
192.168.80.248/29

Baris Unused menunjukkan sisa ruang yang sama dengan hasil Langkah #3: satu /30 dan satu /29. Opsi -b menyembunyikan tampilan angka biner supaya keluaran lebih ringkas.

Pertanyaan Seputar Subnetting

Apa yang dimaksud dengan subnetting?

Subnetting adalah proses memecah satu blok alamat IP menjadi beberapa jaringan kecil dengan meminjam bit dari bagian host. Setiap hasil pemecahan disebut subnet dan memiliki alamat jaringan, rentang host, serta alamat broadcast sendiri.

255.255.255.0 subnet berapa?

Mask 255.255.255.0 sama dengan prefix /24, yaitu satu jaringan berisi 254 host terpakai. Kalau blok asalnya /24, mask ini belum memecah apa pun. Kalau blok asalnya /16, mask ini memecahnya menjadi 2⁸ = 256 subnet.

Bagaimana cara menghitung subnetting dengan cepat?

Hafalkan ukuran blok: 128, 64, 32, 16, 8, dan 4 untuk prefix /25 sampai /30 di oktet terakhir. Setelah prefix diketahui, cari kelipatan ukuran blok yang terdekat di bawah alamat. Itulah alamat jaringannya, dan broadcast berada satu angka sebelum kelipatan berikutnya.

Apa beda subnetting dan subnet mask?

Subnetting adalah kegiatan membagi jaringan, sedangkan subnet mask adalah angka yang mencatat hasil pembagian itu. Setiap kali Anda melakukan subnetting, yang berubah di perangkat adalah subnet mask-nya.

Apa contoh subnetting dalam jaringan sehari-hari?

Contoh paling umum adalah router kantor yang memisahkan WiFi tamu dari jaringan karyawan. Misalnya karyawan di 192.168.50.0/26 dan tamu di 192.168.50.64/26, dengan aturan bahwa tamu hanya boleh ke internet.

Kesimpulan

Subnetting adalah cara memecah satu blok alamat menjadi beberapa jaringan kecil dengan meminjam bit dari bagian host. Setiap bit yang dipinjam menggandakan jumlah subnet dan membelah dua kapasitasnya, sedangkan setiap subnet mengorbankan dua alamat. Rumus jumlah subnet yang berlaku sekarang adalah 2ⁿ, sementara 2ⁿ − 2 adalah warisan aturan lama yang sudah dinyatakan usang sejak 1995.

Pakai FLSM kalau kebutuhan setiap bagian kurang lebih sama, dan pakai VLSM kalau ukurannya sangat berbeda, dengan alokasi dari yang terbesar. Susun subnet berdampingan dan sisakan blok cadangan, supaya jaringan tetap mudah dikembangkan dan rutenya bisa diringkas.

Semoga artikel ini membantu.