Setiap website yang Anda buka dilayani sepotong perangkat lunak bernama web server. Perannya sederhana untuk dijelaskan dan berat untuk dikerjakan: menerima permintaan dari peramban, menyiapkan jawabannya, lalu mengirimkannya kembali secepat mungkin. Tiga nama mendominasi pekerjaan itu. Menurut survei W3Techs per 4 September 2026, Nginx memegang 31,3% situs, Cloudflare Server 29,9%, dan Apache 22,5%.

Di urutan berikutnya ada nama yang jarang dipasang sendiri oleh pemilik website, tetapi sering muncul di halaman hosting: LiteSpeed, dengan 14,7%. Angka itu besar untuk sebuah perangkat lunak berbayar. Di sinilah persoalannya muncul bagi Anda yang mengelola server sendiri — lisensi LiteSpeed Web Server dihitung per server, dan biayanya berjalan setiap bulan.

OpenLiteSpeed adalah jawaban vendor atas persoalan tersebut: edisi sumber terbuka yang gratis, memakai mesin yang sama, dan bisa Anda pasang di VPS mana pun. Yang perlu Anda ketahui sebelum memakainya bukan daftar keunggulannya. Ada tiga hal spesifik yang membedakan perilakunya dari Apache maupun Nginx, dan satu di antaranya rutin membuat pengguna baru kehilangan setengah hari.

OpenLiteSpeed Adalah Edisi Sumber Terbuka dari LiteSpeed

OpenLiteSpeed adalah web server sumber terbuka yang dikembangkan LiteSpeed Technologies sebagai edisi gratis dari produk komersialnya, LiteSpeed Web Server. Perangkat lunak ini ditulis dalam bahasa C++ dan dirilis di bawah lisensi GPLv3, artinya Anda bebas memakai, memodifikasi, dan mendistribusikannya. Repositori publiknya sudah berjalan sejak 11 Juli 2013, dan rilis stabil terakhirnya adalah versi 1.9.2 tertanggal 6 Agustus 2026.

Pembaca sering menemuinya dengan dua ejaan, OpenLiteSpeed dan Open LiteSpeed, serta singkatan OLS di forum. Ketiganya merujuk perangkat lunak yang sama.

Satu hal perlu diluruskan sejak awal. "OpenLiteSpeed" dan "LiteSpeed" bukan dua nama untuk barang yang sama. Keduanya berbagi mesin inti, tetapi berbeda lisensi, berbeda daftar fitur, dan berbeda daftar panel yang mendukungnya. Perbedaan itu bukan sekadar urusan harga, dan bagian selanjutnya akan menunjukkan di mana batasnya terasa.

Nama ketiga yang sering ikut tertukar adalah LiteSpeed Cache. Itu bukan web server, melainkan mesin penyimpan halaman di dalam LiteSpeed beserta plugin WordPress yang mengendalikannya.

Cara Kerja OpenLiteSpeed: Event-Driven dan Jalur PHP Lewat LSAPI

Dua mekanisme menentukan hampir seluruh perilaku OpenLiteSpeed. Yang pertama adalah arsitekturnya, yang kedua adalah cara ia memanggil PHP.

Arsitekturnya bersifat event-driven (berbasis peristiwa). Satu proses pekerja melayani banyak koneksi secara bergantian, dan berpindah ke koneksi lain setiap kali ada penantian — misalnya saat menunggu jawaban database. Model ini sama dengan yang dipakai Nginx, dan berbeda dari model klasik Apache yang menyediakan satu proses atau thread untuk setiap koneksi. Konsekuensinya terasa saat pengunjung bersamaan menumpuk: pemakaian memori naik jauh lebih landai.

Bagian kedua yang lebih khas adalah LSAPI (LiteSpeed Server Application Programming Interface), protokol milik LiteSpeed untuk berbicara dengan PHP. Prosesnya bernama lsphp, dan itulah yang Anda lihat memakan CPU di htop ketika situs sedang sibuk. Berbeda dari PHP-FPM yang berkomunikasi lewat protokol FastCGI, LSAPI dirancang khusus untuk menempel pada web server ini.

Satu proses pekerja OpenLiteSpeed mengirim berkas statis langsung dan meneruskan permintaan PHP lewat LSAPI ke lsphp.Satu proses pekerja OpenLiteSpeed mengirim berkas statis langsung dan meneruskan permintaan PHP lewat LSAPI ke lsphp.

Perbedaan praktisnya ada pada cara proses PHP dilahirkan. LSAPI menyediakan beberapa mode; mode yang menjadi bawaan pada edisi Enterprise mem-fork proses PHP yang sudah hidup, bukan menyalakan proses baru dari nol. Karena prosesnya tidak mati, opcode cache — hasil kompilasi kode PHP yang disimpan di memori — ikut bertahan. Pada mode Worker, proses baru dibuat lalu dimatikan, sehingga opcode cache terbuang setiap kali.

Dari mekanisme inilah klaim performa vendor berasal. LiteSpeed Technologies menyebut kombinasi LSWS dan LSAPI "hingga 50% lebih cepat" dibanding Apache dengan mod_php, dan "75% lebih cepat" dibanding Nginx dengan PHP-FPM. Angka itu klaim penerbitnya sendiri, bukan hasil uji independen. Yang bisa Anda pegang adalah mekanismenya: selisih terbesar muncul pada situs PHP dengan banyak permintaan dinamis, dan hampir tidak terasa pada situs statis.

OpenLiteSpeed vs LiteSpeed Enterprise: Perbedaan yang Benar-Benar Terasa

Halaman perbandingan resmi LiteSpeed memuat puluhan baris. Sebagian besar sama di kedua edisi, termasuk dukungan HTTP/2 dan HTTP/3 beserta QUIC. Yang benar-benar mengubah cara Anda bekerja hanya beberapa baris berikut.

AspekOpenLiteSpeedLiteSpeed Enterprise
LisensiSumber terbuka, gratisKomersial
Konfigurasi ApacheHanya mod_rewriteDibaca langsung
Perubahan .htaccessPerlu restartTerdeteksi otomatis
ESITidak tersediaTersedia
Panel yang didukungCyberPanel, DirectAdmincPanel, Plesk, dan panel di sebelah
Jumlah proses pekerjaTanpa batasMengikuti lisensi
ModSecurityPustaka standarMesin sendiri, lebih cepat
Proteksi brute force wp-adminTidak adaAda

Dua baris paling menentukan adalah ESI dan dukungan cPanel. ESI (Edge Side Includes) memungkinkan sepotong kecil halaman dirakit terpisah dari sisanya. Berkat itu, blok keranjang belanja atau sapaan bernama pengguna tetap dinamis di atas halaman yang tersimpan di cache. Tanpa ESI, halaman bertransaksi harus dikeluarkan seluruhnya dari cache.

OpenLiteSpeed kalah di ESI, cPanel, dan konfigurasi Apache, tetapi menang di worker tanpa batas dan lisensi gratis.OpenLiteSpeed kalah di ESI, cPanel, dan konfigurasi Apache, tetapi menang di worker tanpa batas dan lisensi gratis.

Baris kedua menjelaskan kesalahpahaman yang paling sering kami temui. Hosting bersama di Indonesia hampir seluruhnya memakai cPanel, dan OpenLiteSpeed tidak mendukung cPanel sama sekali. Jadi ketika penyedia hosting Anda menyebut "server LiteSpeed", yang berjalan di sana adalah edisi Enterprise berlisensi — lengkap dengan ESI dan deteksi .htaccess otomatis. Menyimpulkan "hosting saya sudah OpenLiteSpeed" dari badge LiteSpeed adalah kekeliruan yang mahal. Keliruannya baru terasa saat Anda memasang OLS sendiri di VPS dan mendapati dua kemampuan itu hilang.

Jebakan .htaccess yang Membuat Aturan Rewrite Berhenti Bekerja

Dari seluruh perbedaan di atas, satu inilah yang paling sering menghabiskan waktu. Perilaku berkas .htaccess di OpenLiteSpeed berbeda dari Apache dalam dua hal sekaligus, dan keduanya tidak menghasilkan pesan kesalahan apa pun.

Pertama, hanya direktif mod_rewrite yang dibaca. Dokumentasi resminya menyatakan OpenLiteSpeed saat ini hanya mendukung aturan mod_rewrite dari Apache. Direktif lain yang biasa Anda tulis di .htaccessHeader, ErrorDocument, FilesMatch, Redirect, Expires, php_value — diabaikan tanpa peringatan. Berkasnya terbaca, sebagian isinya dijalankan, sisanya lewat begitu saja.

Kedua, hasil bacaannya dibekukan. Aturan dimuat saat direktori pertama kali diakses, lalu disimpan. Setiap perubahan pada .htaccess setelah itu tidak berlaku sampai web server dinyalakan ulang. Inilah sebabnya aturan yang Anda yakin benar tampak tidak bekerja: aturannya memang belum dibaca. Gejalanya biasanya muncul sebagai 404 Not Found atau 403 Forbidden pada URL yang seharusnya ditangani aturan penulisan ulang.

OpenLiteSpeed hanya membaca RewriteRule dan mengabaikan Header, ErrorDocument, php_value; perubahan menuntut restart.OpenLiteSpeed hanya membaca RewriteRule dan mengabaikan Header, ErrorDocument, php_value; perubahan menuntut restart.

Agar .htaccess terbaca sama sekali, dua setelan harus aktif:

  1. Tingkat server: buka Server ConfigurationGeneralRewrite Control, lalu isi Auto Load from .htaccess dengan Yes.
  2. Tingkat virtual host: buka Virtual Hosts → nama host Anda → tab Rewrite, lalu aktifkan Enable Rewrite dan Auto Load from .htaccess.

Setelah setelan aktif, subdirektori ikut terbaca otomatis pada versi OpenLiteSpeed modern, jadi Anda tidak perlu mendaftarkan tiap folder satu per satu.

Untuk memuat ulang aturan setiap kali .htaccess berubah, jalankan perintah berikut dari terminal server:

Bash
sudo /usr/local/lsws/bin/lswsctrl restart

Bantuan bawaan perkakas itu menyebut restart sebagai graceful restart dengan nol waktu henti, jadi pengunjung yang sedang dilayani tidak terputus. Perintah yang sama menerima stop, start, reload, dan status.

Kalau situs Anda sangat bergantung pada direktif .htaccess di luar mod_rewrite, CyberPanel menjual modul terpisah yang menutup keterbatasan ini. Kemampuannya nyata, dan begitu pula harganya.

OpenLiteSpeed vs Nginx dan Apache: Kapan Masing-Masing Masuk Akal

Membandingkan ketiganya lewat pertanyaan "mana yang tercepat" jarang menghasilkan jawaban berguna, karena selisihnya sangat bergantung pada beban kerja. Tiga sumbu berikut lebih menentukan pengalaman harian Anda.

AspekOpenLiteSpeedNginxApache
Menjalankan PHPlsphp bawaanPHP-FPM terpisahmodul atau FPM
Aturan rewritemod_rewrite, perlu restartkonfigurasi utama.htaccess penuh
Cara konfigurasiantarmuka grafisberkas teksberkas teks
Cache halamanLSCache bawaandirakit sendirimodul terpisah

Cara menjalankan PHP. OpenLiteSpeed memanggil lsphp lewat LSAPI dan mengelolanya sendiri. Nginx tidak menjalankan PHP sama sekali — ia meneruskannya ke PHP-FPM yang Anda pasang dan atur terpisah. Apache bisa keduanya. Artinya di OLS Anda mengelola satu perangkat lunak, di Nginx dua.

Cara mengelola aturan rewrite. Apache membaca .htaccess penuh dan langsung. OpenLiteSpeed membaca sebagian dan butuh restart, seperti dijelaskan sebelumnya. Nginx tidak mengenal .htaccess sama sekali; semua aturan ditulis di konfigurasi utama dan dimuat ulang dengan nginx -s reload. Kalau Anda datang dari Apache, OLS terasa lebih dekat, tetapi kemiripannya berhenti di mod_rewrite.

Cara mengubah konfigurasi. Antarmuka grafis bawaan OpenLiteSpeed mempercepat pekerjaan awal. Berkas teks Nginx dan Apache lebih repot di awal, tetapi lebih mudah dimasukkan ke kontrol versi dan disalin antarserver.

Putusan praktisnya: pilih OpenLiteSpeed bila beban Anda didominasi WordPress atau aplikasi PHP lain dan Anda menginginkan cache di lapisan server tanpa biaya lisensi. Pilih Nginx bila Anda banyak bekerja dengan reverse proxy, aplikasi Node.js, atau ingin konfigurasi yang portabel. Pilih Apache bila Anda mewarisi aplikasi lama yang bergantung pada modul dan direktif .htaccess di luar mod_rewrite.

WebAdmin di Port 7080 dan Pengamanan Menit Pertama

Setelah pemasangan selesai, OpenLiteSpeed membuka dua pintu. Situs contohnya dilayani di port 8088, sedangkan konsol administrasi berbasis peramban — namanya WebAdmin — berada di port 7080 dan diakses lewat HTTPS.

Tidak ada kata sandi bawaan yang perlu Anda tebak. Kredensial dibuat sendiri lewat skrip berikut:

Bash
sudo /usr/local/lsws/admin/misc/admpass.sh

Skrip ini menanyakan nama pengguna, dengan admin sebagai nilai bawaan, lalu meminta kata sandi baru. Jalankan skrip yang sama kapan pun Anda melupakan kata sandinya — ia menimpa kredensial lama tanpa perlu memasang ulang apa pun.

Port 8088 melayani situs contoh OpenLiteSpeed, port 7080 konsol WebAdmin yang harus dibatasi ke IP Anda.Port 8088 melayani situs contoh OpenLiteSpeed, port 7080 konsol WebAdmin yang harus dibatasi ke IP Anda.

Setelah kredensial siap, ada satu pekerjaan yang sebaiknya tidak Anda tunda: batasi akses port 7080. Alasannya bukan kehati-hatian umum. Pada Oktober 2022, tim Unit 42 milik Palo Alto Networks melaporkan tiga kerentanan sekaligus:

  1. CVE-2022-0072directory traversal dengan skor CVSS 5,8, membuka akses ke berkas terlarang di dalam direktori web.
  2. CVE-2022-0073 — penyuntikan perintah lewat dasbor administrasi. Penyerang yang berhasil masuk ke WebAdmin dapat menjalankan perintah apa pun di server.
  3. CVE-2022-0074 — peningkatan hak akses lewat salah konfigurasi variabel PATH pada image Docker resmi.

Versi 1.5.11 sampai 1.7.16 terdampak. Perbaikannya keluar pada 1.7.16.1 tertanggal 18 Oktober 2022, empat belas hari setelah laporan masuk. Pelajarannya bertahan: dasbor administrasi yang terbuka ke internet adalah pintu masuk yang berharga. Batasi port 7080 ke alamat IP Anda lewat firewall, atau akses melalui terowongan SSH.

Untuk lapisan berikutnya, OpenLiteSpeed mendukung ModSecurity v3 memakai pustaka standar industri, dan menyediakan pembatasan koneksi serta bandwidth per alamat IP di konfigurasinya.

LSCache dan WordPress: Bagian yang Tetap Gratis di Edisi Terbuka

Kabar baiknya, mesin cache tidak ikut dipangkas. LSCache — penyimpan halaman jadi yang bekerja di dalam web server, sebelum PHP sempat dijalankan — tersedia penuh di OpenLiteSpeed. Plugin LiteSpeed Cache untuk WordPress pun berjalan normal di atasnya, termasuk pembersihan cache otomatis saat Anda memperbarui artikel.

Inilah alasan utama orang memilih OpenLiteSpeed ketimbang Nginx untuk WordPress. Pada Nginx, cache di lapisan server harus dirakit sendiri lewat FastCGI cache, dan tidak ada plugin yang tahu kapan harus mengosongkannya. Di OpenLiteSpeed, hubungan antara plugin dan web server sudah tersedia sejak awal.

Yang hilang hanya satu, dan sudah disebut di tabel edisi: ESI. Konsekuensinya spesifik dan mudah diperiksa. Halaman yang isinya berbeda untuk tiap pengunjung — keranjang belanja WooCommerce, halaman akun, sapaan bernama pengguna — tidak bisa dipecah menjadi bagian tersimpan dan bagian dinamis. Halaman seperti itu harus dikeluarkan seluruhnya dari cache.

Untuk blog, situs perusahaan, portal berita, dan toko kecil yang lalu lintasnya didominasi pengunjung anonim, batasan ini nyaris tidak terasa. Untuk toko daring ramai dengan banyak pengguna yang masuk bersamaan, inilah titik ketika edisi Enterprise mulai masuk akal secara hitungan.

Tiga Jalur Memasang OpenLiteSpeed

Ada tiga cara memasangnya, dan pilihan Anda menentukan seberapa banyak pekerjaan lanjutan yang tersisa.

Jalur pertama, skrip satu perintah. Skrip resmi bernama ols1clk memasang OpenLiteSpeed beserta LSPHP sekaligus:

Bash
curl -sSk -O https://raw.githubusercontent.com/\
litespeedtech/ols1clk/master/ols1clk.sh
sudo bash ols1clk.sh

Menambahkan opsi -W di baris terakhir membuat skrip yang sama memasang WordPress, MariaDB, dan plugin LiteSpeed Cache dalam satu jalan.

Gunakan --lsphp untuk memilih versi PHP, tersedia dari 7.4 sampai 8.5. Gunakan --adminport untuk memindahkan WebAdmin dari 7080, dan --adminpassword untuk menetapkan kata sandi tanpa dialog. Tambahkan --owasp-enable bila Anda ingin ModSecurity beserta aturan OWASP langsung menyala. Opsi --autocert memasang ACME, sehingga SSL dari Let's Encrypt terbit otomatis di tingkat server.

Skrip ini mendukung Debian 11, 12, dan 13 serta Ubuntu 22, 24, dan 26. Di sisi RHEL, yang didukung adalah CentOS dan turunannya seperti AlmaLinux dan Rocky Linux versi 8, 9, dan 10. Beberapa distribusi yang dulu populer sudah habis masa dukungannya. Langkah demi langkahnya bisa Anda ikuti di panduan instalasi OpenLiteSpeed yang kami tulis terpisah, meski contohnya masih memakai CentOS dan PHP 7.2.

Jalur kedua, repositori resmi. Anda menambahkan repositori LiteSpeed ke apt atau dnf, lalu memasang paketnya seperti paket biasa. Cara ini memberi kendali penuh atas versi dan mempermudah pembaruan lewat mekanisme sistem operasi, tetapi PHP, database, dan sertifikat harus Anda urus sendiri. Tersedia juga image Docker resmi bila Anda menjalankan layanan dalam container.

Jalur ketiga, lewat panel kontrol. OpenLiteSpeed menjadi web server bawaan pada CyberPanel, dan didukung DirectAdmin, RunCloud, SPanel, Webuzo, Enhance, serta OpenPanel. aaPanel juga menawarkannya sebagai pilihan web server. Panel memasang seluruh komponen sekaligus dan menyediakan antarmuka untuk domain, email, dan sertifikat. Ini jalur paling wajar bila Anda mengelola lebih dari satu domain.

Tiga jalur pasang OpenLiteSpeed: ols1clk membawa PHP, repositori resmi tidak, panel kontrol membawa email dan SSL.Tiga jalur pasang OpenLiteSpeed: ols1clk membawa PHP, repositori resmi tidak, panel kontrol membawa email dan SSL.

Ketiga jalur menuntut akses root, jadi tempatnya adalah VPS Indonesia atau server yang Anda kendalikan penuh — bukan hosting bersama.

Kelemahan dan Kapan OpenLiteSpeed Tetap Layak Dipilih

Berikut hal yang perlu Anda pertimbangkan sebelum memutuskan.

  1. Berkas .htaccess hanya sebagian dan butuh restart: aturan di luar mod_rewrite diabaikan diam-diam, dan setiap perubahan menuntut web server dinyalakan ulang.
  2. Tidak ada ESI: halaman bertransaksi harus dikeluarkan seluruhnya dari cache, sehingga manfaat LSCache berkurang pada toko daring yang ramai.
  3. Tidak mendukung cPanel: bila Anda atau klien Anda terikat pada cPanel, edisi terbuka bukan pilihan.
  4. Ekosistem pengetahuan lebih tipis: jumlah tulisan, contoh konfigurasi, dan jawaban forum untuk Nginx jauh lebih banyak. Saat menemui kasus yang tidak biasa, waktu pencarian Anda lebih panjang.
  5. Konfigurasi berformat sendiri: setelan tersimpan dalam format milik OpenLiteSpeed, bukan berkas yang bisa dipindahkan begitu saja ke web server lain. Berpindah keluar berarti menulis ulang.
  6. Bergantung pada satu vendor: mesin, protokol PHP, dan mesin cache-nya berasal dari perusahaan yang sama. Arah pengembangannya mengikuti prioritas komersial mereka.

Meski begitu, ada situasi ketika OpenLiteSpeed adalah pilihan paling masuk akal. Patokan konkretnya:

  • Pindah dari Apache bila situs PHP Anda mulai kewalahan di atas 200 pengunjung bersamaan, sementara memori server tidak bisa ditambah. Perpindahan ke OLS umumnya paling mulus karena aturan mod_rewrite Anda terbawa.
  • Bertahan di Nginx bila lalu lintas Anda didominasi berkas statis, API, atau aplikasi Node.js. Manfaat LSAPI hampir tidak terasa di sana.
  • Naik ke Enterprise bila toko daring Anda melewati kira-kira 50 pengguna masuk secara bersamaan pada jam sibuk. Di titik itu, ketiadaan ESI membuat sebagian besar halaman berat berjalan tanpa cache sama sekali.
  • Pertimbangkan layanan web hosting berbasis LiteSpeed bila Anda menginginkan kecepatannya tanpa menanggung pekerjaan merawat server, memantau CVE, dan menyalakan ulang layanan setiap kali .htaccess berubah.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar OpenLiteSpeed

Bisakah OpenLiteSpeed dipasang di hosting cPanel?

Tidak. Integrasi cPanel hanya tersedia untuk LiteSpeed Enterprise, dan pada hosting bersama Anda memang tidak punya akses root untuk mengganti web server. Bila Anda menginginkan OpenLiteSpeed, panel yang sejalan dengannya adalah CyberPanel atau DirectAdmin di atas VPS.

Berapa RAM minimum untuk menjalankan OpenLiteSpeed?

LiteSpeed tidak menerbitkan angka minimum resmi, jadi berikut patokan lapangan. Proses OpenLiteSpeed sendiri ringan; yang menghabiskan memori adalah lsphp dan database. Untuk satu situs WordPress berukuran sedang, 1 GB masih berjalan dan 2 GB membuat Anda tidak perlu memikirkannya lagi. Di bawah 1 GB, siapkan swap.

Bagaimana kalau kata sandi WebAdmin terlupa?

Jalankan ulang sudo /usr/local/lsws/admin/misc/admpass.sh dari terminal server. Skrip itu menimpa kredensial lama, jadi tidak ada proses pemulihan lain yang perlu Anda tempuh. Nyalakan ulang layanan bila konsol masih menolak kredensial baru.

Selain PHP, apakah OpenLiteSpeed bisa melayani Node.js, Python, atau Laravel?

Bisa. Laravel berjalan seperti aplikasi PHP lain lewat lsphp. Untuk Node.js dan Python, OpenLiteSpeed bertindak sebagai reverse proxy yang meneruskan permintaan ke proses aplikasi Anda — pola yang sama seperti pada Nginx. Rilis 1.9.2 bahkan secara khusus memperbaiki pengelola proses Node.js-nya.

Apa bedanya OpenLiteSpeed dengan LiteSpeed Cache yang muncul di WordPress?

Keduanya berada di lapisan berbeda. OpenLiteSpeed adalah web server-nya, perangkat lunak yang melayani permintaan. LiteSpeed Cache adalah plugin WordPress yang memberi perintah kepada mesin cache di dalam web server tersebut. Plugin itu membutuhkan server LiteSpeed atau OpenLiteSpeed agar fitur cache halamannya bekerja.

Kesimpulan

OpenLiteSpeed adalah edisi sumber terbuka dari LiteSpeed Web Server. Ia gratis, berlisensi GPLv3, memakai arsitektur event-driven dan protokol LSAPI yang sama, serta membawa mesin cache LSCache secara penuh. Untuk situs WordPress di VPS, kombinasi itu memberi cache di lapisan server tanpa perakitan manual seperti yang dituntut Nginx.

Dua batas menentukan kapan edisi ini cukup dan kapan tidak. Berkas .htaccess hanya dibaca sebagian dan menuntut restart setiap kali berubah, dan ketiadaan ESI membuat halaman bertransaksi kehilangan manfaat cache. Selama pengunjung Anda mayoritas anonim, keduanya nyaris tidak terasa. Begitu pengguna yang masuk mulai menumpuk, edisi Enterprise atau hosting berbasis LiteSpeed menjadi hitungan yang lebih jujur.

Semoga artikel ini membantu.