Membuka artikel berita dari ponsel di jaringan yang tersendat akrab bagi hampir semua pengguna internet di Indonesia. Halaman terbuka setengah, iklan menyusul belakangan, tata letak melompat saat gambar akhirnya termuat. Pada 2015 Google menawarkan jawaban yang radikal. Alih-alih menyarankan penerbit mengoptimasi halamannya, Google meminta mereka menerbitkan versi kedua yang aturannya ditetapkan Google sendiri. Versi kedua itulah yang kita kenal sebagai AMP. Sebelas tahun kemudian hampir semua janji yang menyertainya sudah dicabut, dan pada 1 Juli 2026 bagian terakhirnya ikut dilepas.
Google AMP Adalah Format Halaman yang Sengaja Dibatasi
Google AMP adalah Accelerated Mobile Pages, sebuah format halaman web berbasis HTML yang aturannya dipersempit supaya halaman termuat cepat di perangkat seluler. Inti idenya sederhana: sebagian besar kelambatan halaman modern datang dari kode yang ditulis pemilik situs sendiri, terutama JavaScript pihak ketiga. Kalau kode itu dilarang, kelambatannya hilang bersamanya.
Namanya menyesatkan, jadi perlu diluruskan sejak awal. AMP bukan fitur di dalam Google, bukan layanan yang Anda nyalakan dari sebuah tombol, dan hari ini bukan pula proyek milik Google. Kodenya berlisensi Apache-2.0 dan repositorinya terbuka sejak 1 September 2015. Sejak 10 Oktober 2019 tata kelolanya berada di bawah OpenJS Foundation, yayasan yang sama yang menaungi Node.js dan jQuery. Yang tetap dipegang Google hanyalah cara hasil pencarian memperlakukan halaman AMP — dan justru itulah yang berubah paling banyak.
Sebuah halaman AMP tidak menggantikan halaman biasa Anda. Ia hidup berdampingan sebagai alamat kedua untuk isi yang sama, biasanya dengan tambahan /amp/ pada alamatnya.
Tiga Komponen AMP dan Mana yang Sudah Dilepas Google
Kalau dibongkar, AMP terdiri dari tiga bagian yang bekerja berurutan.
- AMP HTML: dokumen halamannya sendiri. Ia memakai tag HTML biasa ditambah komponen khusus seperti
<amp-img>dan<amp-video>, serta sederet larangan yang dijelaskan di bagian berikutnya. - Runtime AMP: berkas JavaScript bernama
v0.jsyang diunduh daricdn.ampproject.org. Ia yang mengatur urutan pemuatan sumber daya, menahan elemen agar tidak menggeser tata letak, dan mengambil alih pekerjaan yang biasanya ditangani skrip pemilik situs. - Google AMP Cache: salinan halaman yang disimpan di server Google. Inilah yang dulu membuat halaman AMP terasa terbuka seketika, karena Google sudah menyalin dan bahkan memuat sebagiannya sebelum Anda mengetuk tautan.
Perhatikan bahwa keunggulan kecepatan yang paling terasa datang dari komponen ketiga, bukan dua yang pertama. Menyajikan halaman dari cache yang letaknya dekat dengan pengguna adalah trik yang sama dengan yang dipakai CDN mana pun. Bedanya, salinan itu dipegang Google.
Tiga komponen AMP: markup AMP HTML dan runtime v0.js 73 KB masih dipakai; Google AMP Cache dilepas 1 Juli 2026.
Sejak 1 Juli 2026, Google Search tidak lagi memakai komponen ketiga tersebut.
Aturan yang Membuat Sebuah Halaman Sah Disebut AMP
Sebuah dokumen hanya dihitung sebagai AMP kalau lolos validasi. Aturannya tegas dan tidak bisa ditawar sebagian.
- Penanda dan kerangka wajib. Dokumen dibuka dengan
<!doctype html>lalu<html ⚡>atau<html amp>. Di dalam<head>,<meta charset="utf-8">harus jadi anak pertama, disusul meta viewport, pemanggilan runtimev0.js, dan dua blok gaya bawaan bernamaamp-boilerplate. - Batas CSS 75.000 byte. Seluruh gaya harus ditulis langsung di dalam dokumen, dan validator menolak halaman kalau gabungan gaya penulis melewatinya. Ini syarat sah, bukan anjuran.
- JavaScript penulis dilarang. Anda tidak boleh menulis JavaScript sendiri di luar yang disediakan komponen AMP. Tag
<script>hanya boleh berisiapplication/ld+json,application/json, atautext/plain. - Satu celah bernama
amp-script. Komponen ini mengizinkan kode Anda berjalan dengan pagar yang rapat: skrip inline maksimal 10.000 byte, totalnya per halaman 150.000 byte. Pada wadah berukuran variabel, kode hanya boleh mengubah tampilan setelah pengguna melakukan sesuatu, dengan jatah lima detik. - Sepasang tautan penghubung. Halaman AMP menunjuk balik ke versi biasa lewat
<link rel="canonical">, sementara halaman biasa mengumumkan versi AMP-nya lewat<link rel="amphtml">. Pasangan inilah yang dibaca mesin pencari, dan yang Anda cabut saat melepas AMP.
Digabungkan, aturan itu menghasilkan kerangka dokumen yang bentuknya selalu mirip. Berikut halaman AMP paling sederhana yang sudah memenuhi syarat sah:
<!doctype html>
<html amp lang="id">
<head>
<meta charset="utf-8">
<title>Judul Halaman</title>
<link rel="canonical" href="/artikel-asli">
<meta name="viewport"
content="width=device-width">
<script async
src="https://cdn.ampproject.org/v0.js">
</script>
<style amp-boilerplate>...</style>
<noscript>
<style amp-boilerplate>...</style>
</noscript>
<style amp-custom>
body { font-size: 16px }
</style>
</head>
<body>
<h1>Judul Halaman</h1>
<amp-img src="foto.webp"
width="1200" height="630"
layout="responsive">
</amp-img>
</body>
</html>Isi amp-boilerplate di atas disingkat; aslinya disalin apa adanya dari spesifikasi resmi. Perhatikan juga <amp-img> yang menggantikan <img>, karena AMP mewajibkan setiap gambar menyatakan dimensinya lebih dulu.
Untuk memeriksa apakah sebuah halaman sah sebagai AMP, tempelkan alamatnya ke
validator.ampproject.org. Cara kedua: buka halaman AMP di browser, tambahkan#development=1di ujung alamatnya, lalu baca pesan galat di konsol peramban. Perlu dicatat, versi baris perintahnya di npm,amphtml-validator, berhenti di versi 1.0.38 yang dirilis 2 April 2024.
Apa yang Berubah pada 1 Juli 2026
Selama bertahun-tahun, mengetuk hasil pencarian AMP di ponsel membawa Anda ke alamat yang aneh: google.com/amp/s/ diikuti nama situs aslinya. Halaman yang terbuka memang milik penerbit, tetapi disajikan dari server Google dan dibungkus lapisan bernama AMP viewer. Banyak pembaca menganggapnya kesalahan, padahal itulah mekanisme yang dirancang sejak awal.
Mekanisme itu berhenti pada 1 Juli 2026. Google memperbarui dokumentasinya dan menghapus seluruh rujukan ke AMP viewer, Google AMP Cache, dan signed exchange (teknik kriptografis yang dipakai agar halaman dari cache tetap menampilkan alamat asli penerbit). Juru bicara Google menjelaskannya begini: "Starting today, we are updating how we connect users to AMP pages from Search, taking them directly to the AMP host pages." Konsekuensi praktisnya, penerbit tidak perlu lagi memperbarui cache maupun menyiapkan signed exchange.
Dua hal perlu diletakkan pada porsinya. Pertama, Google tidak membubarkan infrastruktur cache-nya; yang berhenti adalah pemakaiannya untuk menyajikan hasil pencarian. Kedua, peringkat tidak ikut berubah. Dokumentasi resmi kini menyatakan Google Search mengindeks halaman AMP persis seperti halaman lain, dengan standar yang sama, apa pun teknologi pembangunnya.
Sebelum 1 Juli 2026 hasil pencarian AMP melewati cache Google lewat AMP viewer; kini langsung ke domain penerbit.
Artinya, bagian AMP yang paling menguntungkan penerbit sudah dilepas, sementara bagian yang paling membatasi tetap berlaku sepenuhnya.
Perjalanan Status AMP di Mata Google
Melihat kronologinya sekaligus membantu memahami kenapa banyak panduan yang beredar terasa tidak cocok lagi dengan kenyataan.
- 7 Oktober 2015 — AMP diumumkan.
- Februari 2016 — halaman AMP mulai muncul di hasil pencarian seluler, awalnya khusus di carousel Top Stories.
- 18 September 2018 — proyek beralih ke model tata kelola terbuka.
- 10 Oktober 2019 — AMP resmi masuk OpenJS Foundation.
- Pertengahan Juni 2021 — Page Experience update bergulir. Top Stories dibuka untuk halaman non-AMP, dan ikon petir penanda AMP di hasil pencarian dihapus. Sejak titik ini AMP tidak lagi memberi keuntungan posisi apa pun.
- November 2021 — Twitter menghentikan dukungan AMP.
- 20 April 2022 — Brave dan DuckDuckGo menambahkan fitur yang melewati halaman AMP dan langsung membuka versi aslinya.
- 29 November 2023 — Ghost mencabut dukungan AMP dari intinya.
- 1 Juli 2026 — penyajian dari cache dihentikan.
Pola sepuluh tahun ini konsisten ke satu arah: setiap insentif SEO yang dulu membuat AMP layak dikerjakan dilepas satu per satu, sementara aturan teknisnya tidak pernah dilonggarkan.
AMP diumumkan 2015, syarat Top Stories dan badge petir dicabut Juni 2021, penyajian dari cache berhenti Juli 2026.
Berapa Banyak Website yang Masih Memakai AMP
Web Almanac 2025 yang disusun HTTP Archive mengukur langsung jutaan halaman dan menempatkan AMP di angka yang sangat kecil. Hanya 0,2% halaman utama versi seluler yang benar-benar berformat AMP, dan 0,9% halaman dalam versi seluler yang menyediakan tautan rel="amphtml". Laporan itu menyebut pemakaiannya bertahan di bawah 1% dan menempatkan AMP sebagai teknologi pinggiran.
Kondisi perkakasnya sejalan dengan angka tersebut. Repositori runtime AMP mencatat 54 commit sepanjang 52 minggu terakhir: masih hidup, tetapi jauh dari proyek yang dikembangkan aktif. Plugin AMP resmi untuk WordPress, yang dipakai sekitar 400.000 situs, berhenti di versi 2.5.5 yang dirilis 12 November 2024 dan hanya diuji sampai WordPress 6.8.8, padahal WordPress saat ini sudah di versi 7.1.
Angka-angka di atas diperiksa pada 4 September 2026 langsung dari GitHub API dan WordPress.org Plugin API. Anda bisa mengulangnya sendiri kapan saja.
Media Indonesia Justru Bertahan: Hasil Pemeriksaan 15 Situs Berita
Angka global tadi ternyata tidak menggambarkan apa yang terjadi di Indonesia. Pada 4 September 2026 kami memeriksa 15 media berita nasional dengan cara sederhana: mengambil beberapa artikel terbaru dari tiap situs, lalu melihat apakah dokumennya memuat <link rel="amphtml">.
Hasilnya, 12 dari 15 media masih menerbitkan versi AMP: detik.com, liputan6.com, cnnindonesia.com, okezone.com, republika.co.id, sindonews.com, viva.co.id, antaranews.com, idntimes.com, kontan.co.id, suara.com, dan jawapos.com. Tiga yang tidak lagi menyediakannya adalah kompas.com, tribunnews.com, dan merdeka.com.
Survei 4 September 2026: 12 dari 15 media berita nasional masih menerbitkan versi AMP, hanya tiga yang tidak.
Kami juga menimbang bobot dokumennya. Satu artikel detik.com berukuran 69.197 byte dalam versi biasa dan 34.005 byte dalam versi AMP, selisih 51%. Pada viva.co.id, 42.723 byte berbanding 31.714 byte, selisih 26%. Angka ini hanya mengukur dokumen HTML-nya, belum menghitung gambar, huruf, dan skrip pihak ketiga yang menyusul, jadi ia menunjukkan arah penghematan, bukan besarnya secara keseluruhan.
Penghematan itu nyata, terutama untuk situs berita yang mayoritas pembacanya datang dari jaringan seluler. Namun penghematan serupa dapat dicapai tanpa format terpisah: menekan jumlah skrip pelacak dan memakai HTTP/2 beserta kompresi yang benar.
Kelemahan dan Hal yang Perlu Anda Pertimbangkan
- Satu artikel, dua alamat, dua pekerjaan. Setiap perubahan tata letak, penyesuaian iklan, dan pembaruan kebijakan harus dikerjakan dua kali. Beban ini tidak hilang selama versi AMP masih terbit.
- Data dan pendapatan terpecah. Statistik pengunjung, pengujian tampilan, dan skrip pihak ketiga sering tidak menyatu antara kedua versi. Iklan pun harus dipasang lewat komponen
<amp-ad>, sehingga tidak semua format dan penyedia iklan yang berjalan di halaman biasa bisa dipakai apa adanya. - Argumen cache bersama sudah gugur. Dulu orang beralasan bahwa runtime AMP hanya diunduh sekali dan dipakai ulang di semua situs AMP. Sejak Chrome memisahkan penyimpanan sementara per situs pada versi 86 tanggal 6 Oktober 2020, alasan itu tidak berlaku lagi. Setiap situs AMP kini mengunduh sendiri berkas
v0.jsyang berukuran 73 KB setelah kompresi Brotli, atau 278 KB tanpa kompresi. - Fitur yang harus direlakan. Formulir bertingkat, widget pihak ketiga, personalisasi, dan sebagian besar interaksi berbasis JavaScript sendiri tidak bisa dipindahkan apa adanya ke AMP.
- Perkakasnya menua. Plugin resmi yang tertinggal beberapa versi mayor di belakang WordPress adalah risiko kompatibilitas yang bertambah setiap kali inti WordPress diperbarui.
- Catatan dari sisi persaingan usaha. Gugatan antitrust negara bagian Texas dan beberapa negara bagian lain, diajukan Desember 2020 dan dibuka versi tak tersensornya pada 2021, menuduh Google sengaja memperlambat iklan pada halaman non-AMP. Gugatan itu juga merujuk dokumen internal yang menyebut halaman AMP menghasilkan pendapatan sekitar 40% lebih rendah bagi penerbit. Ini tuduhan, bukan putusan, dan Google menyebutnya tidak berdasar.
Kapan AMP Masih Masuk Akal dan Kapan Sebaiknya Ditinggalkan
Ada tiga keadaan yang membuat AMP tetap relevan, dan ketiganya sempit.
- Web Stories. Format cerita layar penuh yang muncul di Google Search dan Discover ini tetap mensyaratkan dokumen AMP yang sah. Kalau Web Stories bagian dari rencana konten Anda, AMP masuk sebagai keharusan teknis, bukan pilihan.
- AMP for Email. Email interaktif yang isinya diperbarui saat dibuka hanya berjalan di Gmail, Yahoo Mail, dan Mail.ru. Pengirim wajib mendaftarkan domainnya ke Google lebih dulu, dan setiap kiriman tetap harus menyertakan versi HTML biasa sebagai cadangan.
- Situs berita bertrafik besar yang sudah lama memakainya. Kalau alur redaksi dan penjualan iklan Anda sudah menyesuaikan diri bertahun-tahun, mencabutnya adalah proyek tersendiri yang perlu dijadwalkan.
Di luar tiga keadaan itu, membangun AMP baru sulit dibenarkan. Untuk sebagian besar website, hasil yang sama dicapai dengan mengejar Core Web Vitals pada satu versi halaman saja. Targetnya konkret: waktu muat konten utama di bawah 2,5 detik, daya respons di bawah 200 milidetik, dan pergeseran tata letak di bawah 0,1. Fondasinya tidak menuntut format khusus: kualitas layanan web hosting yang dipakai, cache yang benar, gambar yang dikompresi, dan skrip pihak ketiga yang ditahan jumlahnya. Pendekatan ini sekaligus membebaskan Anda dari mengelola dua versi halaman selamanya.
AMP masih wajib untuk Web Stories dan AMP for Email; selebihnya cukup mengejar Core Web Vitals di satu halaman.
Satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan: Google Discover tidak mensyaratkan AMP. AMP memang salah satu cara mengaktifkan pratinjau gambar besar di sana, tetapi menambahkan
max-image-preview:largepada meta robots memberi hasil yang sama tanpa format terpisah.
Cara Melepas AMP tanpa Kehilangan Peringkat
Google menyediakan panduan resminya, dan kuncinya satu: alamat AMP lama tidak boleh berakhir sebagai halaman mati.
Langkah #1: Cabut Tautan Pengumuman
Hapus <link rel="amphtml"> dari seluruh halaman kanonis. Selama tautan ini masih ada, mesin pencari terus mengharapkan versi AMP tersedia.
Langkah #2: Alihkan Alamat AMP ke Versi Kanonis
Atur server agar setiap alamat AMP membalas HTTP 301 Moved Permanently menuju halaman biasanya. Ini bagian paling menentukan: pengalihan permanen memindahkan sinyal peringkat dan menjaga tautan dari luar tetap sampai ke tujuan. Menghapus berkasnya tanpa pengalihan hanya menghasilkan deretan halaman 404.
Langkah #3: Matikan Sumbernya di CMS
Pada WordPress, nonaktifkan lalu hapus plugin AMP setelah pengalihan aktif — bukan sebelumnya. Pada Blogger perlakuannya berbeda, karena platform itu tidak pernah menyediakan AMP bawaan; yang memasangnya adalah template pihak ketiga, sehingga melepasnya berarti mengganti template.
Langkah #4: Pantau Selama Beberapa Minggu
Laporan AMP di Google Search Console masih tersedia dan akan memperlihatkan jumlah halaman AMP menyusut. Periksa juga laporan cakupan agar tidak ada lonjakan 404, lalu buka beberapa alamat AMP lama secara manual untuk memastikan pengalihannya bekerja. Galat yang paling sering muncul di masa transisi adalah domain mismatch, yaitu ketika rel="amphtml" dan rel="canonical" menunjuk ke domain yang berbeda; memastikan kedua tautan itu memakai domain yang sama biasanya menyelesaikannya.
Arti Lain dari Singkatan AMP
Kalau Anda mencari "AMP" tanpa menyertakan kata "Google", hasil yang muncul kemungkinan besar sama sekali bukan tentang web. Singkatan ini dipakai luas di bidang lain:
- Ampere dan amplifier di dunia kelistrikan dan audio, dua pemakaian yang paling umum di percakapan sehari-hari.
- Asphalt Mixing Plant di konstruksi jalan, yaitu pabrik pencampur aspal panas.
- Adenosin monofosfat di biologi, sebuah nukleotida.
- Amfetamin pada lembar hasil tes urine, di mana "AMP" muncul sebagai kode zat yang diperiksa.
Karena itu, saat menulis atau mencari soal topik ini, sebutkan "Google AMP" atau "Accelerated Mobile Pages" secara utuh agar tidak tertukar.
Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Google AMP
Apakah AMP masih berpengaruh terhadap peringkat SEO?
Tidak. Sejak Page Experience update pertengahan Juni 2021, AMP bukan syarat masuk Top Stories dan tidak memberi keuntungan posisi. Halaman AMP dinilai dengan standar yang sama seperti halaman lain.
Kenapa alamat halaman yang saya buka mengandung /amp/?
Karena penerbitnya masih menerbitkan versi AMP dan Google menautkan ke sana. Sejak 1 Juli 2026 alamat itu ada di server penerbit, bukan di server Google.
Apakah alamat google.com/amp/s/… masih ada?
Tidak lagi muncul dari hasil pencarian. Lapisan AMP viewer yang menghasilkan alamat berawalan google.com dilepas pada 1 Juli 2026, dan pembaca kini diantar langsung ke domain penerbit.
Bagaimana cara membuka versi biasa dari sebuah halaman AMP?
Buka kode sumbernya dan cari <link rel="canonical"> — alamat di sana adalah versi aslinya. Cara cepat tanpa membuka kode: hapus bagian /amp/ dari alamat, atau ganti awalan amp. pada nama domainnya. Tersedia juga ekstensi peramban yang mengalihkan tautan AMP ke versi kanonis secara otomatis.
Bagaimana memastikan sebuah halaman sah sebagai AMP?
Tempelkan alamatnya ke validator.ampproject.org. Cara cepat lainnya, lihat kode sumber halaman: dokumen AMP selalu diawali <html ⚡> atau <html amp> dan memuat cdn.ampproject.org/v0.js di bagian <head>.
Apakah menghapus AMP akan menurunkan peringkat?
Tidak, selama alamat AMP lama dialihkan permanen ke halaman kanonisnya. Yang berbahaya bukan pelepasannya, melainkan meninggalkan alamat mati tanpa pengalihan.
Kalau AMP ditinggalkan, apakah Web Stories ikut mati?
Tidak. Web Stories tetap didukung Google dan masih dibangun di atas format AMP yang sah. Melepas AMP dari artikel biasa tidak memengaruhinya.
Kesimpulan
Google AMP adalah format halaman beraturan ketat untuk mempercepat pemuatan di perangkat seluler, dan sejak 10 Oktober 2019 dikelola OpenJS Foundation, bukan Google. Selama sepuluh tahun terakhir setiap insentifnya dicabut satu per satu, terakhir pada 1 Juli 2026 saat Google berhenti menyajikan halaman AMP dari cache-nya sendiri. Hari ini AMP hanya benar-benar diperlukan untuk Web Stories dan email interaktif. Untuk website pada umumnya, mengejar Core Web Vitals pada satu versi halaman memberi hasil setara tanpa beban mengelola dua alamat.
Semoga artikel ini membantu.




