Setiap nama domain yang aktif punya catatan administratif tersendiri: didaftarkan lewat perusahaan mana, sejak kapan, dan sampai kapan masa berlakunya. Catatan itu terpisah dari DNS. Sistem DNS menjawab pertanyaan "domain ini mengarah ke server mana", bukan "domain ini terdaftar di mana dan berlaku sampai kapan".

WHOIS adalah cara membaca catatan pendaftaran tersebut. Artikel ini membahas cara kerjanya, isi hasilnya baris demi baris, cara mengecek domain .id yang punya jalur tersendiri, serta pergantian protokol yang sedang berlangsung sejak 2025.

Apa Itu WHOIS?

WHOIS adalah protokol sekaligus layanan untuk menanyakan data pendaftaran sebuah nama domain, alamat IP, atau nomor jaringan kepada pihak yang mencatatnya. Anda mengirim satu baris pertanyaan, dan server membalasnya dengan teks berisi data pendaftaran.

Satu hal perlu diluruskan lebih dulu. WHOIS bukan akronim. Tidak ada kepanjangan di baliknya, sehingga pertanyaan "WHOIS singkatan dari apa" sebenarnya tidak punya jawaban. Namanya diambil dari frasa bahasa Inggris who is, dan pada dokumen standar pertamanya protokol ini disebut NICNAME/WHOIS.

Usianya termasuk yang tertua di internet. Spesifikasi pertamanya, RFC 812, terbit pada Maret 1982 dan disusun di SRI International — lembaga yang ketika itu memegang direktori pengguna ARPANET. RFC 954 menggantikannya pada Oktober 1985, lalu RFC 3912 pada September 2004 yang sampai hari ini masih menjadi acuan resmi.

RFC 3912 hanya setebal beberapa halaman dan isinya sesederhana judulnya. Standar itu mengatur satu hal saja: klien membuka koneksi, mengirim satu baris teks, lalu menerima balasan berupa teks. Format balasannya tidak diatur sama sekali. Kebebasan inilah yang menjelaskan hampir semua keanehan WHOIS yang akan Anda temui, mulai dari susunan kolom yang berbeda-beda antar penyedia sampai sulitnya mengolah hasilnya secara otomatis.

Cara Kerja WHOIS: Dua Lapis Pencatatan

Secara teknis WHOIS berjalan di atas TCP port 43. Pertanyaan dikirim sebagai teks polos tanpa enkripsi, dan balasannya juga teks polos. Tidak ada proses login, tidak ada penyandian, dan tidak ada cara bagi server untuk memastikan siapa yang bertanya.

Yang sering membingungkan adalah data pendaftaran domain tidak tersimpan di satu tempat. Ada dua pihak yang memegangnya:

  1. Registri: pengelola basis data satu ekstensi domain. Verisign memegang .com, PANDI memegang .id. Hanya ada satu registri untuk setiap ekstensi.
  2. Registrar: perusahaan tempat Anda membeli domain, sekaligus pihak yang berhubungan langsung dengan Anda dan menyimpan data diri Anda.

Sebagian registri hanya menyimpan data seperlunya — nama domain, registrar pengelola, tanggal, dan nameserver — lalu menunjuk ke server WHOIS milik registrar untuk data selebihnya. Model ini disebut thin registry dan dipakai oleh .com. Registri lain menyimpan data lengkap di tingkatnya sendiri, dan disebut thick registry.

Kueri whois menuju server registri di port 43, registri menunjuk server registrar, registrar memegang data pendaftar.Kueri whois menuju server registri di port 43, registri menunjuk server registrar, registrar memegang data pendaftar.

Karena model dua lapis itu, hasil WHOIS untuk domain .com hampir selalu memuat baris Registrar WHOIS Server. Baris tersebut bukan kesalahan, melainkan penunjuk arah: bila Anda membutuhkan data yang lebih rinci, tanyakan ke alamat itu.

Isi Hasil WHOIS dan Cara Membacanya

Hasil WHOIS berupa teks berbaris-baris dengan pola Nama Kolom: nilai. Berikut baris yang paling sering muncul beserta maknanya:

BarisArtinya
Domain NameNama domain yang ditanyakan
Registry Domain IDNomor identitas domain di basis data registri
RegistrarPerusahaan tempat domain didaftarkan
Registrar Abuse Contact EmailAlamat pelaporan bila domain dipakai untuk penyalahgunaan
Creation DateTanggal domain pertama kali didaftarkan
Registry Expiry DateTanggal masa berlaku berakhir
Updated DateTerakhir kali data pendaftaran berubah
Name ServerServer DNS yang berwenang atas domain
DNSSECStatus penandatanganan DNSSEC, umumnya unsigned atau signedDelegation
Domain StatusKode status yang sedang melekat pada domain

Dua baris tanggal sering disalahartikan. Creation Date adalah tanggal pendaftaran pertama, bukan tanggal pemilik sekarang membelinya. Sebuah domain berumur belasan tahun bisa saja baru berpindah tangan bulan lalu, dan WHOIS tidak menampilkan riwayat perpindahan itu.

Hasil whois pandi.id dengan anotasi: tanggal pendaftaran, batas masa berlaku, status kunci registri, dan nameserver.Hasil whois pandi.id dengan anotasi: tanggal pendaftaran, batas masa berlaku, status kunci registri, dan nameserver.

Membaca kode Domain Status

Baris Domain Status paling sering dilewati padahal isinya paling menentukan. Kode di sana disebut status EPP, yaitu penanda resmi mengenai tindakan apa yang sedang diizinkan atau dikunci pada domain tersebut.

Awalan kodenya menunjukkan siapa yang memasang kunci. Awalan client berarti kunci dipasang oleh registrar, umumnya sebagai pengaturan bawaan atau atas permintaan Anda. Awalan server berarti kunci dipasang oleh registri, dan registrar tidak dapat melepasnya sendiri.

Tiga kode yang paling sering Anda jumpai:

  1. clientTransferProhibited: Domain terkunci dari perpindahan ke registrar lain. Ini pengaturan bawaan yang sehat, karena mencegah perpindahan tanpa sepengetahuan Anda. Kuncinya perlu dilepas sementara bila Anda memang berniat pindah, dan syaratnya dibahas pada panduan ketentuan melakukan domain transfer.
  2. clientUpdateProhibited: Data pendaftaran dan nameserver tidak dapat diubah sebelum kunci dilepas.
  3. clientDeleteProhibited: Domain tidak dapat dihapus.

Selain ketiganya ada ok atau active, yang berarti tidak ada kunci sama sekali. Ada pula redemptionPeriod dan pendingDelete yang muncul setelah domain kedaluwarsa, dan keduanya menandakan sisa waktu penyelamatan semakin sempit. Cara melepas dan memasang kunci lewat panel dijelaskan pada panduan lock dan unlock status domain.

Kenapa Kolom Nama Pemilik Sering Kosong

Sampai sekitar 2018, hasil WHOIS hampir selalu memuat nama lengkap, alamat, nomor telepon, dan email pendaftarnya. Data itu terbuka bagi siapa saja tanpa syarat.

Keadaan berubah ketika GDPR (General Data Protection Regulation), aturan perlindungan data Uni Eropa, mulai berlaku pada Mei 2018. Menampilkan data pribadi secara terbuka tanpa dasar hukum yang kuat menjadi persoalan serius, dan registrar di seluruh dunia menutup kolom-kolom tersebut. ICANN menerbitkan kebijakan sementara sebagai penambal, yang kemudian digantikan Registration Data Policy dan berlaku penuh sejak 21 Agustus 2025 setelah masa transisi satu tahun.

Dua hal yang sering tertukar perlu dibedakan di sini:

  1. Redaksi: penyembunyian yang terjadi otomatis karena kebijakan, tanpa Anda minta dan tanpa biaya. Kolomnya tetap ada, tetapi isinya diganti penanda seperti REDACTED FOR PRIVACY.
  2. Layanan proxy atau privasi: fasilitas tambahan yang Anda aktifkan sendiri, sering berbayar, dan di banyak registrar dipasarkan dengan nama WHOIS protection. Data perusahaan penyedia layanan yang muncul menggantikan data Anda, termasuk alamat dan nomor teleponnya.

Contoh layanan proxy mudah ditemukan, bahkan pada perusahaan besar. Hasil WHOIS untuk godaddy.com menampilkan Registrant Name berisi "Registration Private" dengan organisasi "Domains By Proxy, LLC" — anak perusahaan GoDaddy sendiri yang memang menjual layanan tersebut.

Kartu kiri redaksi, baris data pendaftar dihitamkan. Kartu kanan proxy privasi, data diganti milik perantara.Kartu kiri redaksi, baris data pendaftar dihitamkan. Kartu kanan proxy privasi, data diganti milik perantara.

Data yang ditutup tidak berarti hilang, karena registrar tetap menyimpannya. Pihak dengan kepentingan sah seperti penegak hukum atau praktisi keamanan siber masih dapat memintanya. Jalurnya lewat Registration Data Request Service (RDRS) milik ICANN, atau langsung kepada registrar bersangkutan.

Satu hal lagi perlu Anda sadari: penutupan ini tidak berlaku surut. Sejumlah layanan komersial mengarsipkan hasil WHOIS secara berkala sejak akhir 1990-an, dan cuplikan yang mereka ambil sebelum 2018 umumnya masih memuat nama beserta kontak pendaftar secara lengkap. Mengaktifkan proteksi privasi hari ini menyembunyikan data Anda ke depan, bukan menghapus jejak yang sudah terekam sebelumnya.

Perlu diperhatikan bahwa isi WHOIS berasal dari formulir yang Anda isi saat mendaftarkan domain. Data yang keliru tetap tercatat keliru meskipun tersembunyi, dan itu berisiko saat Anda perlu membuktikan kepemilikan. Cara mengaktifkan proteksi privasi di panel Indowebsite dijelaskan pada panduan privacy protect WHOIS pada domain manager.

WHOIS Domain .id: PANDI dan Satu Jebakan Perintah

Domain berakhiran .id tidak dikelola registri internasional, melainkan PANDI (Perkumpulan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Server WHOIS PANDI berada di whois.id, terpisah dari jalur gTLD seperti .com.

Hasil untuk domain .co.id memuat nama domain, registry domain ID, registrar pengelola, tanggal pendaftaran dan kedaluwarsa, status EPP, nameserver, serta status DNSSEC. Tidak ada satu pun kolom pendaftar di sana — bukan diredaksi, melainkan memang tidak ditampilkan sama sekali.

Di sinilah letak jebakan yang membuat banyak orang mengira WHOIS .id bermasalah. Menjalankan perintah whois polos terhadap domain .id tidak mengembalikan data domain sama sekali:

Bash
whois indowebsite.co.id

Yang muncul justru rekaman IANA untuk ekstensi ID secara keseluruhan, lengkap dengan alamat kantor PANDI dan daftar nameserver .id. Di dalamnya ada baris refer: whois.id, tetapi banyak klien WHOIS bawaan sistem tidak mengikuti rujukan tersebut secara otomatis. Sebutkan server tujuannya secara eksplisit supaya data domain benar-benar keluar:

Bash
whois -h whois.id indowebsite.co.id

Perintah kedua inilah yang mengembalikan data pendaftaran sesungguhnya. PANDI juga sudah menyediakan layanan RDAP di rdap.pandi.id, yang akan dibahas di bagian berikutnya. Bila yang Anda butuhkan adalah memperbarui data diri pada domain .id, langkahnya ada di panduan merubah data diri domain manager Domain-ID.

Cara Cek WHOIS Domain

Ada dua jalur, dan pilihannya bergantung pada seberapa sering Anda melakukannya.

Lewat peramban

Untuk cek kepemilikan domain yang sifatnya sesekali, layanan WHOIS lookup berbasis web sudah memadai. ICANN menyediakan alat resmi di lookup.icann.org yang mencakup seluruh gTLD. Untuk domain .id, PANDI menyediakan pencarian langsung di whois.id. Registrar besar juga menyediakan halaman serupa, meski hasilnya kadang disederhanakan atau disisipi tawaran produk.

Lewat terminal

Untuk pengecekan rutin, perintah bawaan sistem jauh lebih cepat. Di macOS perintah whois sudah tersedia tanpa pemasangan. Di Ubuntu dan Debian, pasang lebih dulu dengan perintah berikut:

Bash
sudo apt install whois

Setelah terpasang, cukup sebutkan nama domainnya:

Bash
whois contoh.com

Bila Anda ingin bertanya langsung ke server tertentu — misalnya karena rujukan otomatis tidak diikuti seperti pada kasus .id di atas — gunakan opsi -h:

Bash
whois -h whois.verisign-grs.com contoh.com

Pengguna Windows tidak mendapat perintah ini secara bawaan. Microsoft menyediakan utilitas whois.exe gratis melalui paket Sysinternals, yang dijalankan lewat Command Prompt atau PowerShell setelah diunduh.

Perlu diperhatikan, server WHOIS menerapkan pembatasan laju permintaan. Puluhan kueri berturut-turut dari satu alamat IP dapat membuat Anda diblokir sementara, jadi hindari perulangan otomatis tanpa jeda.

WHOIS Bukan Hanya untuk Domain: Alamat IP dan Nomor AS

Nama domain hanyalah satu dari tiga jenis sumber daya yang tercatat di WHOIS. Dua lainnya adalah blok alamat IP dan nomor AS (Autonomous System Number, penanda jaringan yang mengumumkan rutenya sendiri di internet).

Pencatatnya bukan registrar domain, melainkan RIR (Regional Internet Registry). Indonesia berada di wilayah APNIC, yang membawahi Asia-Pasifik. Di bawahnya ada IDNIC dan APJII sebagai lapisan nasional.

IANA membagi blok alamat IP ke APNIC, lalu ke IDNIC dan APJII, lalu ke penyedia jasa internet Indonesia.IANA membagi blok alamat IP ke APNIC, lalu ke IDNIC dan APJII, lalu ke penyedia jasa internet Indonesia.

Kueri terhadap sebuah alamat IP publik mengembalikan baris yang berbeda dari WHOIS domain. Yang paling berguna: inetnum berisi rentang alamat, netname dan descr berisi nama organisasi pemegangnya, country berisi kode negara, serta abuse-mailbox berisi alamat pelaporan penyalahgunaan.

Berbeda dengan kasus .id tadi, kueri terhadap alamat IP tidak memerlukan opsi -h. Klien WHOIS mengikuti rujukan antar-RIR secara otomatis, sehingga alamat milik ARIN maupun RIPE tetap terjawab tanpa Anda menyebut servernya:

Bash
whois 8.8.8.8

Cara yang sama berlaku untuk alamat Anda sendiri. Setelah mengetahui IP publik yang sedang Anda pakai, jalankan perintah tersebut untuk melihat blok itu milik siapa — hasilnya hampir selalu menyebut nama penyedia jasa internet Anda.

Di sinilah muncul kontras yang layak Anda catat: nama pemilik domain kini disembunyikan, tetapi nama pemegang blok alamat IP tidak. Data pemegang blok IP adalah informasi operasional jaringan, bukan data pribadi perorangan, sehingga tetap terbuka. Karena itu, saat menghadapi lalu lintas mencurigakan dari sebuah alamat IP, WHOIS masih menjadi cara tercepat menemukan ke mana laporan harus dikirim.

Mencari tahu sebuah website di-hosting di mana

Pertanyaan tentang hosting sebuah website sering dialamatkan ke WHOIS domain, padahal jawabannya tidak tersimpan di sana. Jalurnya melewati dua langkah: terjemahkan nama domain menjadi alamat IP, lalu jalankan WHOIS terhadap alamat IP tersebut. Kolom netname dan descr akan menyebut organisasi pemegang blok alamat itu.

Perlu diperhatikan satu batasnya. Bila website memakai CDN, yang muncul adalah nama penyedia CDN, bukan penyedia hosting sebenarnya. Alamat yang dijawab DNS memang milik jaringan CDN, sementara server aslinya berada di belakangnya. Hasil seperti ini menunjukkan lapisan terdepan, bukan tempat berkas website benar-benar disimpan.

RDAP, Penerus WHOIS yang Sudah Berjalan

Sejak 28 Januari 2025, ICANN menetapkan RDAP (Registration Data Access Protocol) sebagai sumber resmi data pendaftaran gTLD, menggantikan layanan WHOIS yang mulai dipensiunkan. Perubahan ini berlangsung bertahap dan belum terasa oleh sebagian besar pemilik domain.

RDAP memperbaiki empat kelemahan mendasar WHOIS sekaligus:

AspekWHOISRDAP
JalurTCP port 43, teks polosHTTPS, terenkripsi
Format balasanBebas, berbeda tiap penyediaJSON terstruktur dan seragam
Dukungan bahasaTerbatas ke ASCIIUnicode penuh
Pembedaan penggunaTidak adaBisa memberi akses bertingkat

Peralihannya bukan sekadar wacana di atas kertas. Beberapa registri sudah mencabut hostname WHOIS mereka dari DNS. Nama server seperti whois.nic.app dan whois.nic.dev kini tidak dapat diterjemahkan sama sekali, dan kolom whois pada rekaman IANA untuk ekstensi tersebut sudah kosong. Layanan RDAP untuk ekstensi yang sama tetap berjalan normal.

Meski begitu, jangan menganggap WHOIS sudah mati hari ini. Verisign berkomitmen menjalankan WHOIS .com berdampingan dengan RDAP, dan .com adalah ekstensi terbesar di dunia. Banyak ccTLD termasuk .id juga masih melayaninya seperti biasa. Kesimpulan praktisnya: kebiasaan lama Anda masih berfungsi untuk sebagian besar domain, tetapi arah jangka panjangnya sudah jelas.

Bila Anda ingin memeriksa apakah sebuah ekstensi sudah punya RDAP, IANA menerbitkan daftar lengkapnya dalam berkas dns.json. Per terbitan 23 Juli 2026, sudah ada 1.200 ekstensi yang terdaftar di sana, termasuk .id lewat rdap.pandi.id.

Yang Tidak Bisa Anda Harapkan dari WHOIS

Setelah semua kegunaannya, ada batas yang perlu Anda sadari supaya tidak salah menaruh harapan.

  1. Tidak lagi bisa dipakai mengidentifikasi orang: Untuk mayoritas domain, kolom pendaftar sudah tertutup. Menggunakan WHOIS untuk mencari tahu siapa di balik sebuah situs sekarang jarang membuahkan hasil.
  2. Isinya tidak diverifikasi: Data pendaftaran bergantung pada kejujuran pengisinya. Nama dan alamat palsu tetap akan tercatat apa adanya selama formatnya sah.
  3. Formatnya tidak seragam: Karena RFC 3912 tidak mengatur format balasan, susunan kolom berbeda antar registri. Mengolahnya secara otomatis selalu menuntut penyesuaian.
  4. Ada pembatasan jumlah kueri: Pengecekan massal akan terhenti oleh pembatasan laju, dan sebagian penyedia memblokir alamat IP yang terlalu agresif.
  5. Tidak menunjukkan penyedia hosting secara langsung: WHOIS domain hanya menampilkan nameserver. Nama penyedia baru terbaca lewat WHOIS terhadap alamat IP-nya, dan itu pun tertutup bila website memakai CDN.
  6. Tidak berlaku untuk nomor telepon atau akun media sosial: Ini kekeliruan yang cukup umum. WHOIS hanya mengenal tiga jenis sumber daya internet, yaitu nama domain, blok alamat IP, dan nomor AS.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar WHOIS

Apa kepanjangan dari WHOIS?

Tidak ada. WHOIS bukan singkatan, melainkan penamaan yang diambil dari frasa who is. Pada standar awalnya protokol ini ditulis sebagai NICNAME/WHOIS.

Bagaimana cara cek pemilik domain sekarang?

Cek WHOIS tetap langkah pertama, tetapi untuk mayoritas domain hasilnya hanya menampilkan registrar dan tanggal. Yang masih bisa Anda lakukan adalah menghubungi registrar lewat alamat kontak penyalahgunaan yang tercantum, atau mengajukan permintaan resmi lewat RDRS bila kepentingan Anda memenuhi syarat.

Apakah data WHOIS bisa disembunyikan seluruhnya?

Untuk gTLD, sebagian besar sudah tersembunyi otomatis. Layanan proxy privasi menambah satu lapis lagi dengan mengganti seluruh data kontak menjadi milik penyedia layanan. Untuk domain .id, data pendaftar memang tidak pernah ditampilkan.

Kenapa hasil WHOIS domain saya terlihat kosong?

Kemungkinan besar itu perilaku normal karena redaksi otomatis. Bila yang kosong justru seluruh hasilnya, periksa apakah Anda sudah menyebut server yang tepat, terutama untuk domain .id.

Berapa lama perubahan data WHOIS terlihat?

Umumnya dalam hitungan menit sampai beberapa jam setelah registrar mengirimkan pembaruan ke registri. Berbeda dengan perubahan DNS, pembaruan data WHOIS tidak melalui proses propagasi ke server di seluruh dunia.

Apakah WHOIS sama dengan DNS lookup?

Berbeda sama sekali. DNS lookup menanyakan ke mana sebuah nama mengarah, sedangkan WHOIS menanyakan siapa yang mendaftarkan nama tersebut dan sampai kapan berlaku.

Kesimpulan

WHOIS adalah protokol berusia lebih dari empat dekade yang dipakai membaca catatan pendaftaran domain, blok alamat IP, dan nomor AS. Isinya kini jauh lebih ringkas dibanding satu dekade lalu, karena data pribadi pendaftar sudah ditutup oleh aturan perlindungan data, sementara data pemegang blok alamat IP tetap terbuka.

Bukalah WHOIS ketika Anda perlu memastikan masa berlaku domain, memeriksa status kunci sebelum mengurus perpindahan registrar, atau mencari alamat pelaporan penyalahgunaan dari sebuah alamat IP. Untuk domain .id, ingat bahwa servernya ada di whois.id dan perlu disebut secara eksplisit. Dan bila suatu hari perintah whois Anda tidak lagi mendapat jawaban untuk ekstensi tertentu, itu bukan gangguan — melainkan tanda ekstensi tersebut sudah sepenuhnya berpindah ke RDAP.

Semoga artikel ini membantu.