Nama Ubuntu hampir selalu muncul lebih dulu ketika orang Indonesia membicarakan Linux. Di belakangnya biasanya menyusul Debian, CentOS, atau Fedora. Nama-nama itu punya satu kesamaan: semuanya berada di dalam dua keluarga besar yang saling berkerabat. Debian menurunkan Ubuntu, sementara Fedora dan CentOS berbagi asal-usul dengan Red Hat.
openSUSE berada di luar keduanya. Distro ini dikembangkan di Jerman dan memakai format paket yang sama dengan keluarga Red Hat, tetapi tidak diturunkan dari siapa pun. Karena itu pertanyaan yang paling sering muncul tentangnya bukan soal kelebihan, melainkan soal asal-usul: sebenarnya openSUSE ini turunan dari apa?
OpenSUSE Adalah Distro Linux yang Berdiri Sendiri
openSUSE adalah distribusi Linux gratis yang dikembangkan oleh openSUSE Project, sebuah proyek komunitas yang disponsori perusahaan perangkat lunak Jerman bernama SUSE. Seluruh kodenya bersifat open source, dan distro ini tersedia dalam beberapa edisi untuk komputer pribadi maupun server.
Jawaban untuk pertanyaan asal-usul tadi cukup singkat: openSUSE tidak berbasis distro lain. DistroWatch mencatat statusnya sebagai Independent, satu kategori dengan Slackware, Gentoo, dan Arch Linux. Ia memang memakai berkas .rpm seperti Fedora dan Rocky Linux, tetapi format paket hanyalah cara pembungkusan — bukan penanda keturunan.
Satu hal lagi yang sering tertukar adalah hubungan openSUSE dengan SUSE. SUSE adalah perusahaannya, openSUSE adalah proyek komunitasnya. SUSE menjual produk berbayar bernama SUSE Linux Enterprise, sementara openSUSE dibagikan gratis dan dikelola bersama komunitas. Keduanya berbagi banyak kode, tetapi bukan dua nama untuk satu produk.
Bentuk resmi namanya adalah openSUSE dalam satu kata, berhuruf kecil di depan. Penulisan "open SUSE" terpisah dan sebutan openSUSE Linux masih sering dipakai, tetapi tidak oleh proyeknya sendiri.
Dari Slackware Berbahasa Jerman ke Proyek Komunitas
Cerita openSUSE dimulai jauh sebelum namanya ada. Pada 2 September 1992, empat orang — Roland Dyroff, Thomas Fehr, Hubert Mantel, dan Burchard Steinbild — mendirikan sebuah perusahaan kecil di Fürth, Jerman. Namanya S.u.S.E., singkatan dari Software- und System-Entwicklung (pengembangan perangkat lunak dan sistem).
Produk pertama mereka bukan distro sendiri. Mereka menerjemahkan Slackware ke bahasa Jerman bersama Patrick Volkerding, pembuat Slackware, lalu menjualnya lengkap dengan dukungan teknis.
Perpisahan dengan Slackware terjadi pada Mei 1996 lewat rilis S.u.S.E. Linux 4.2. Versi ini berpindah ke basis Jurix, sebuah distribusi buatan Florian La Roche. Perpindahan itu membawa dua hal yang sampai sekarang menjadi ciri khasnya: format paket RPM dan perkakas konfigurasi bernama YaST. Sejak titik itu, distro ini berjalan dengan kaki sendiri.
Sisanya adalah pergantian kepemilikan. Novell menuntaskan akuisisi SUSE pada 13 Januari 2004, lalu pada 10 Agustus 2005 mengumumkan openSUSE Project dan membuka proses pengembangan yang sebelumnya tertutup. Maskot bunglon hijau pada logonya sudah lebih dulu punya nama, Geeko, hasil sayembara komunitas pada awal 2000.
Penomoran versinya sempat membingungkan. Setelah 13.2 pada 2014, versi berikutnya melompat ke 42.1. Angka 42 adalah rujukan balik ke rilis 4.2 tahun 1996, sekaligus lelucon dari novel The Hitchhiker's Guide to the Galaxy. Setelah 42.3, penomorannya turun lagi ke 15.0 supaya sejajar dengan SUSE Linux Enterprise 15. Sejak Oktober 2025, versi tetapnya adalah Leap 16.
Tujuh Edisi openSUSE dan Bedanya
openSUSE bukan satu sistem, melainkan tujuh edisi resmi dengan sasaran berbeda-beda. Empat di antaranya bersifat immutable, yaitu sistem yang berkas intinya dikunci agar tidak bisa diubah sembarangan. Pembaruannya dipasang sebagai satu kesatuan yang bisa dibatalkan utuh.
| Edisi | Rilis | Untuk siapa |
|---|---|---|
| Leap | Tetap, 24 bulan | Desktop & server, ingin tenang |
| Tumbleweed | Rolling cepat | Perangkat baru, paket terkini |
| Slowroll | Rolling pelan (beta) | Tumbleweed bertempo lebih santai |
| Leap Micro | Tetap, immutable | Server container |
| MicroOS | Rolling, immutable | Server container, tempo Tumbleweed |
| Aeon | Rolling, immutable | Desktop GNOME tanpa utak-atik |
| Kalpa | Rolling, immutable | Desktop Plasma, belum dirawat |
Beberapa angka yang membantu memilih. Leap 16.0 dirilis pada 1 Oktober 2025 dengan janji 24 bulan pembaruan keamanan. Slowroll menerima pembaruan besar sebulan sekali, dengan perbaikan bug dan keamanan mengalir di antaranya, tetapi statusnya masih beta. Kalpa berstatus tidak dirawat, sehingga sebaiknya tidak dipakai sehari-hari; padanan GNOME-nya, Aeon, jauh lebih siap.
Dua model rilis openSUSE: Leap di kiri sebagai batu pijakan berjarak tetap, Tumbleweed di kanan sebagai sungai mengalir.
Leap atau Tumbleweed: Cara Memilihnya
Dua nama inilah yang paling banyak dicari, dan keduanya melayani kebutuhan yang berlawanan.
Pilih Leap kalau mesin Anda dipakai untuk bekerja dan Anda tidak ingin memikirkan sistem operasi setiap minggu. Versi paketnya dibekukan selama satu siklus rilis, sehingga perilaku program tidak berubah di tengah jalan. Ini pilihan yang wajar untuk server, laptop kantor, dan komputer yang dipakai bergantian oleh banyak orang.
Pilih openSUSE Tumbleweed kalau perangkat keras Anda baru, atau Anda membutuhkan versi terbaru dari alat pengembangan. Tumbleweed melepas snapshot baru beberapa kali dalam seminggu, lengkap dengan kernel dan aplikasi terkini. Kekhawatiran yang wajar muncul: apakah pembaruan sesering itu tidak berisiko?
Di sinilah openSUSE punya jawaban yang terukur. Snapshot Tumbleweed tidak dilepas begitu paketnya selesai dibangun. Ia baru naik setelah perangkat lunak dari Factory — basis pengembangan openSUSE — diintegrasikan, distabilkan, dan diuji otomatis oleh openQA. Layanan pengujian sistem operasi itu dibuat sendiri oleh proyek ini, dan dipakai untuk menyaring rilis Leap maupun Tumbleweed.
Satu peringatan resmi perlu Anda ketahui sebelum memilih Tumbleweed. Karena kernelnya diperbarui sangat sering, pengguna yang bergantung pada modul kernel pihak ketiga — terutama driver grafis tertutup milik NVIDIA — disarankan tidak memakainya, kecuali sudah terbiasa membangun ulang driver tersebut sendiri. Untuk perangkat keras yang dukungannya sudah masuk ke kernel Linux resmi, persoalan ini tidak muncul.
Hubungan openSUSE dengan SUSE Linux Enterprise
Anggapan bahwa openSUSE adalah "versi gratis dan lebih lemah" dari produk berbayar SUSE tidak tepat.
Sejak Leap 15.3, openSUSE Leap tidak lagi sekadar dibangun dari kode sumber SUSE Linux Enterprise, melainkan memakai berkas paket biner yang sama persis. Mulai Leap 16, keduanya berbagi satu sumber bernama SLFO (SUSE Linux Framework One). Inti sistem yang Anda pasang gratis identik dengan yang dipakai perusahaan berlangganan dukungan.
Yang membedakan adalah layanan di sekelilingnya: kontrak dukungan, sertifikasi perangkat keras, dan masa pemeliharaan yang jauh lebih panjang. Tumbleweed berjalan di arah sebaliknya — ia menjadi tempat pengujian bagi teknologi yang nantinya turun ke produk berbayar.
Pilihan Tampilan: KDE, GNOME, Xfce, dan Kepindahan ke Wayland
Saat memasang openSUSE, Anda memilih sendiri desktop environment — lapisan tampilan yang menentukan bentuk menu, panel, dan jendela. Pemasang resminya menawarkan tiga pilihan utama: KDE Plasma, GNOME, dan Xfce. Pilihan lain seperti Cinnamon, LXQt, dan MATE tersedia dari repositori setelah sistem terpasang.
Ada satu perubahan di Leap 16 yang sebaiknya Anda ketahui sebelum memasang. Catatan rilis resminya menyatakan pemasang Leap 16 hanya menyediakan varian Wayland dari setiap desktop. Wayland adalah protokol tampilan penerus X11 atau Xorg, dan sesi berbasis Xorg kini harus dipasang sendiri setelah instalasi selesai.
Konsekuensinya berbeda-beda. Untuk pemakaian biasa, Wayland umumnya terasa lebih mulus. Namun sebagian aplikasi lama, perkakas berbagi layar, dan konfigurasi multi-monitor tertentu masih berperilaku lain di sana. Kalau pekerjaan Anda bergantung pada salah satunya, sediakan waktu untuk memasang sesi Xorg secara terpisah.
Pilihan desktop tidak mengunci apa pun. Anda boleh memasang lebih dari satu dan berpindah dari layar login. openSUSE Leap juga termasuk distro pertama yang menyediakan sesi Wayland untuk Xfce, meski statusnya masih eksperimental.
Zypper dan Perkakas Bawaan yang Berubah di Leap 16
Manajer paket (package manager) openSUSE bernama zypper, dijalankan lewat terminal. Kalau Anda sudah terbiasa dengan apt di Ubuntu, perpindahannya hampir seluruhnya soal menghafal nama perintah:
| Tugas | Debian dan Ubuntu | openSUSE |
|---|---|---|
| Segarkan repositori | apt update | zypper ref |
| Pasang paket | apt install nginx | zypper in nginx |
| Hapus paket | apt remove nginx | zypper rm nginx |
| Perbarui paket | apt upgrade | zypper up |
| Naikkan versi sistem | apt full-upgrade | zypper dup |
| Cari paket | apt search nginx | zypper se nginx |
| Lihat daftar repositori | apt policy | zypper lr |
Satu perintah yang tidak punya padanan langsung adalah zypper dup, singkatan dari distribution upgrade. Di Tumbleweed, perintah inilah yang dipakai untuk pembaruan harian, bukan zypper up.
Berikutnya adalah perubahan yang membuat banyak panduan lama tidak lagi cocok. Selama hampir tiga puluh tahun, YaST adalah wajah openSUSE — satu perkakas yang mengurus pemasangan sistem sekaligus hampir seluruh konfigurasi setelahnya. Di Leap 16, YaST dihapus. Catatan rilis resminya menuliskannya sependek itu, dan perannya dibagi ke tiga program:
- Agama menggantikan pemasang sistem. Antarmukanya berbasis peramban, dan mendukung pemasangan jarak jauh maupun otomatis lewat skrip.
- Cockpit mengambil alih administrasi harian: layanan, penyimpanan, jaringan, akun pengguna, log, pembaruan, sampai terminal. Diakses lewat peramban, sehingga nyaman untuk server tanpa layar.
- Myrlyn menggantikan modul software YaST sebagai manajer paket bertampilan grafis. Ia berjalan di atas pustaka yang sama dengan zypper.
Kalau Anda sedang mengikuti panduan yang menyuruh membuka
yast2untuk mengatur jaringan atau menambah repositori, panduan itu ditulis untuk Leap 15 ke bawah. Di Leap 16, pekerjaan yang sama dilakukan lewat Cockpit atau langsung dengan zypper.
Di luar itu, Open Build Service buatan openSUSE memungkinkan siapa pun mengemas perangkat lunak untuk banyak distro sekaligus, dan proyek lain ikut memakainya. Perkakas opi (OBS Package Installer) menjadi jalan pintas memasang paket dari sana, termasuk codec.
Snapper dan Btrfs: Mesin Waktu untuk Sistem Anda
Fitur yang paling layak disebut sebagai alasan memilih openSUSE adalah kemampuan membatalkan pembaruan yang bermasalah. Mekanismenya sudah aktif sejak awal, tanpa perlu Anda siapkan.
Secara bawaan, openSUSE memformat partisi sistem dengan Btrfs. Sistem berkas ini bisa membuat snapshot (potret kondisi sistem pada satu titik waktu) secara instan tanpa menyalin data. Di atasnya berjalan Snapper, yang mengatur kapan potret itu diambil.
Alur pemulihan openSUSE: zypper membuat snapshot pre, memasang paket, lalu snapper rollback membatalkan pembaruan.
Yang membuatnya berguna adalah waktu pengambilannya. Snapper membuat potret sebelum dan sesudah setiap operasi zypper. Jadi ketika sebuah pembaruan merusak driver grafis atau membuat layanan gagal berjalan, kondisi sistem beberapa detik sebelum pembaruan itu masih tersimpan utuh.
Pemulihannya pun tidak menuntut media instalasi. GRUB 2 bawaan openSUSE menampilkan daftar snapshot di menu bootnya. Anda bisa menyalakan komputer langsung ke kondisi lama, memastikan semuanya normal, lalu menjalankan snapper rollback untuk menjadikannya permanen. Kondisi sebelum pembatalan ikut disimpan sebagai snapshot baru, sehingga langkah ini pun masih bisa dibatalkan.
Pengaturan bawaannya menjaga agar ruang penyimpanan tidak habis: sepuluh snapshot penting dan sepuluh snapshot biasa disimpan, dengan total tidak boleh melebihi 50% partisi root. Inilah alasan dokumentasi resmi meminta partisi root minimal 16 GB kalau fitur ini diaktifkan.
Untuk masalah berat seperti kernel panic setelah pembaruan kernel, kemampuan boot ke snapshot lama sering menjadi pembeda antara perbaikan lima menit dan pemasangan ulang dari awal.
Kelemahan dan Hal yang Perlu Anda Pertimbangkan
Kelebihan openSUSE sudah terlihat di bagian-bagian sebelumnya. Kekurangannya justru yang paling menentukan apakah distro ini cocok untuk Anda, dan jawabannya tidak selalu ya.
- Codec multimedia tidak terpasang sejak awal. Karena alasan lisensi paten, pemutaran berkas H.264 dan beberapa format lain membutuhkan paket dari repositori pihak ketiga bernama Packman. Cara paling aman adalah menjalankan
opi codecs. Kalau menambahkan Packman secara manual, pindahkan dulu paket multimedia ke sana denganzypper dup --from packman --allow-vendor-change, baru pasang codecnya. Melewati langkah itu menghasilkan campuran pustaka yang saling bentrok. Hal yang sama terasa untuk keperluan gaming: Steam bisa dipasang lewat zypper maupun Flatpak, tetapi codec dan driver grafisnya tetap harus diurus terpisah. Untuk kartu NVIDIA, openSUSE memakai driver terbuka nouveau secara bawaan, sementara driver resmi NVIDIA dipasang dari repositori milik NVIDIA sendiri. - Leap 16 menolak prosesor lama. Rilis ini menuntut CPU dengan tingkat mikroarsitektur x86-64-v2, yang praktis berarti prosesor keluaran 2007–2008 ke atas. Komputer yang lebih tua masih bisa memakai Tumbleweed, tetapi tidak lagi bisa memasang Leap terbaru.
- Panduan lama berbasis YaST tidak lagi berlaku. Sebagian besar tutorial openSUSE yang beredar ditulis pada masa Leap 15, dan langkahnya berhenti bekerja di Leap 16. Perangkat lunak penggantinya juga masih disempurnakan, sehingga sesekali ada modul yang belum selengkap pendahulunya.
- Bahan bacaan berbahasa Indonesia jauh lebih sedikit. Untuk hampir semua pertanyaan, tutorial Ubuntu berbahasa Indonesia berkali lipat lebih banyak. Jawaban openSUSE umumnya berkumpul di wiki resmi, forum komunitas, dan Bugzilla-nya — ketiganya berbahasa Inggris.
- Sebagian vendor hanya menyediakan berkas
.deb. Aplikasi yang dikemas khusus untuk Ubuntu kadang tidak punya versi.rpmresmi. Jalan keluarnya lewat Flatpak atau Open Build Service, dengan satu langkah tambahan yang tidak perlu dilakukan pengguna Ubuntu.
Satu hal yang perlu diperhatikan pemakai lama: seluruh lini Leap 15 berakhir masa dukungannya pada akhir April 2026, dan Leap 15.7 tidak pernah ada — 15.6 adalah rilis terakhirnya. Sistem Leap 15.6 yang masih berjalan hari ini sudah tidak menerima tambalan keamanan. Naikkan ke Leap 16 dengan
opensuse-migration-tool, atau pindahkan ke Tumbleweed.
Kebutuhan Sistem dan Cara Mencobanya
Spesifikasi minimum (system requirements) berikut diambil dari dokumentasi resmi Leap 16.0, bukan perkiraan.
Prosesor harus mendukung tingkat mikroarsitektur x86-64-v2. Praktisnya, Intel Core 2 "Penryn" atau AMD Family 10h "Barcelona" ke atas — prosesor keluaran sekitar 2007–2008 dan sesudahnya.
Memori minimal 1 GB untuk instalasi minimal. Tambahkan 150 MB kalau memasang lewat jaringan, dan 512 MB per prosesor pada mesin dengan lebih dari dua CPU.
Ruang penyimpanan bergantung pada apa yang dipasang:
| Yang dipasang | Minimum |
|---|---|
| Mode teks | 1,5 GB |
| Sistem minimal | 2,5 GB |
| Desktop GNOME | 3 GB |
| Seluruh pola paket | 4 GB |
Angka itu baru isi sistemnya. Untuk partisi root, dokumentasi menyarankan 10 GB tanpa snapshot Btrfs, mewajibkan 16 GB kalau snapshot diaktifkan, dan menyarankan 32 GB supaya snapshot punya ruang bernapas. Angka terakhir inilah yang sebaiknya Anda pakai.
Cara paling aman berkenalan adalah menjalankannya di mesin virtual lebih dulu, sehingga sistem utama Anda tidak tersentuh:
Empat langkah mencoba openSUSE: unduh dari situs resmi, cocokkan checksum, jalankan di mesin virtual, ambil snapshot.
Berkas instalasinya bisa Anda download dari get.opensuse.org. Untuk Leap tersedia dua bentuk. Offline image berukuran sekitar 4,2 GB dan memuat seluruh paket. Network image hanya 712 MB dan mengambil paket dari internet saat pemasangan, sehingga menghemat waktu unduh kalau koneksi Anda stabil. Berkas ISO itu juga bisa ditulis ke flash disk menjadi live USB, sehingga openSUSE dapat dicoba langsung tanpa memasang apa pun.
Pemasangnya menyediakan Secure Boot, enkripsi seluruh disk, partisi LVM, dan Btrfs dengan snapshot sebagai pilihan saat instalasi. GRUB bawaannya juga dirancang rukun dengan sistem operasi lain di mesin yang sama, sehingga openSUSE bisa dipasang berdampingan dengan Windows di partisi terpisah.
openSUSE di Server dan Kapan Sebaiknya Dipilih
Di luar desktop, sebagian teknologi openSUSE dipakai luas di industri. Rancher, platform pengelola Kubernetes milik SUSE, dan Harvester untuk virtualisasi sama-sama berjalan di atas basis openSUSE.
Untuk kebutuhan server, tiga edisi paling masuk akal:
- Leap sebagai server serbaguna. Rilis tetap dengan dukungan 24 bulan, cocok untuk web server, basis data, atau mesin internal yang diakses lewat SSH.
- Leap Micro untuk mesin yang tugasnya hanya menjalankan container. Sistemnya immutable dan pembaruannya bersifat transaksional, artinya seluruh pembaruan berhasil sepenuhnya atau dibatalkan sepenuhnya.
- MicroOS untuk kebutuhan serupa, tetapi mengikuti tempo rolling Tumbleweed.
Di luar mesin biasa, openSUSE juga tersedia sebagai image untuk Raspberry Pi dan papan sejenisnya, serta bisa dijalankan di Windows lewat WSL (Windows Subsystem for Linux).
Meski begitu, ada saat openSUSE bukan pilihan paling praktis. Dokumentasi resmi vendor, skrip pemasangan otomatis, dan paket siap pakai umumnya disediakan lebih dulu untuk keluarga Debian dan Red Hat. Kalau server Anda akan memakai panel hosting atau mengikuti panduan vendor tertentu, Ubuntu LTS atau AlmaLinux biasanya lebih hemat tenaga. Skrip pemasangan aaPanel, misalnya, menolak berjalan di openSUSE.
Dibanding Fedora yang sama-sama memakai .rpm, perbedaannya terletak pada peran. Fedora berjalan di depan sebagai lahan uji bagi Red Hat Enterprise Linux, sehingga penggunanya selalu berada di jalur cepat. openSUSE memisahkan peran itu ke Tumbleweed, dan menyediakan Leap sebagai jalur tetap bagi yang tidak menginginkannya.
Aturan praktisnya begini. Pilih openSUSE kalau Anda mengelola sendiri servernya dan menghargai jaring pengaman snapshot. Pilih Ubuntu atau AlmaLinux kalau Anda banyak bergantung pada panduan pihak ketiga.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
openSUSE berbasis distro apa?
Tidak berbasis distro mana pun. openSUSE tercatat sebagai distro independen. Ia memang pernah berangkat dari Slackware pada 1994 sampai 1995, lalu berpindah ke basis Jurix pada 1996, dan sejak itu dikembangkan sebagai jalur sendiri. Pemakaian berkas .rpm sering membuatnya dikira turunan Red Hat, padahal keduanya tidak berkerabat.
Apa kekurangan openSUSE?
Empat yang paling terasa. Codec multimedia harus dipasang terpisah lewat Packman atau opi. Leap 16 menolak prosesor di bawah x86-64-v2. Panduan lama berbasis YaST tidak lagi berlaku setelah perkakas itu dihapus. Tutorial berbahasa Indonesia juga jauh lebih sedikit dibanding Ubuntu.
Lebih baik openSUSE Leap atau Tumbleweed?
Leap untuk mesin kerja dan server yang butuh perilaku tetap selama berbulan-bulan. Tumbleweed untuk perangkat keras baru atau kebutuhan paket terkini. Kalau ragu, mulailah dari Leap — berpindah ke Tumbleweed nanti bisa dilakukan tanpa memasang ulang.
Apakah openSUSE berbayar?
Tidak. Seluruh edisinya gratis diunduh dan dipakai, termasuk untuk keperluan komersial, tanpa akun wajib maupun batas jumlah pemasangan. Yang berbayar adalah SUSE Linux Enterprise beserta kontrak dukungannya, dan itu produk terpisah.
Apakah openSUSE cocok untuk pemula?
Cukup cocok, dengan satu syarat. Proses pemasangannya termasuk yang paling ramah, dan snapshot bawaannya justru memaafkan kesalahan pemula. Syaratnya, Anda perlu nyaman membaca dokumentasi berbahasa Inggris, karena sebagian besar jawaban ada di sana.
Apa itu openSUSE.Asia Summit?
Pertemuan tahunan komunitas openSUSE se-Asia, berisi presentasi teknis dan lokakarya. Penyelenggaraan 2026 kembali ke Indonesia: 3 sampai 4 Oktober 2026 di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta — tempat yang sama dengan summit pertama di Indonesia pada 2016. Komunitas lokalnya aktif di openSUSE.ID.
Kesimpulan
openSUSE adalah distro Linux independen asal Jerman dengan tiga hal yang jarang disatukan. Pilihan model rilisnya lengkap, inti sistemnya sama dengan produk enterprise, dan mekanisme pembatalan pembaruannya aktif tanpa perlu diatur. Ia bukan turunan Debian maupun Red Hat, dan sejak Leap 16 wajahnya berubah cukup jauh dengan hilangnya YaST.
Kalau Anda ingin mencobanya, pasang Leap 16 di mesin virtual dengan 4 GB RAM dan penyimpanan 40 GB. Biasakan diri dengan zypper dan menu snapshot di GRUB. Untuk perangkat keras yang sangat baru, Tumbleweed lebih cepat mengenalinya — kecuali Anda bergantung pada driver NVIDIA tertutup, yang justru lebih tenang di Leap. Dan kalau server Anda banyak bergantung pada panduan pihak ketiga, Ubuntu LTS atau AlmaLinux tetap lebih hemat tenaga.
Semoga artikel ini membantu.




